Pemerhati Kondisi Waduk Gembong Ajak Pihak Lain Untuk Peduli

0
63
Beginilah kondisi lokasi tepian Waduk Seloromo di Desa/Kecamatan Gembong, Pati, menjadi tempat berdirinya warung untuk berjualan, meskipun kawasan tepian itu adalah merupkan daerah genangan (kom) waduk.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Selama ini sebenarnya ada sejumlah pihak yang menjadi pemerhati kondisi Waduk Seloromo, di Desa/Kecamatan Gembong, Pati. Satu di antara permasalahan yang selama ini tidak pernah tersentuh permasalahan, adalah normalisasi daerah genangan (kom) waduk yang saat musim kemarau berubah menjadi daratan.

Dengan demikian, daratan yang cukup luas di sekeliling waduk itu pun akhirnya berubah menjadi tanah lapang, sehingga banyak yang memanfaatkan untuk membuka kegiatan usaha. Yakni, mendirikan warung tenda untuk berjualan, karena pada saat-saat musim kemarau berlangsung banyak warga yang datang berkunjung langsung ke lokasi dengan berkendara mobil maupun motor cukup membayar kebersihan Rp 1.000 untuk motor dan Rp 2.000 untuk mobil.

Akan tetapi, di sisi lain, papar beberapa pemerhati jika pihak yang berkompeten maupun pemerhati lainnya tidak mulai memikirkan kawasan lingkungan waduk peninggalan kolonial itu, dampak yang ditimbulkan sulit diprediksi. ”Karena itu, yang kali pertama harus dipikirkan lebih dahulu, adalah keberadaan warung tenda yang banyak berdiri di daerah genangan,”ujar salah seorang di antara mereka, Edy.

Bahkan, lanjut dia, ada yang juga mendirikan warung tenda itu tepat di bibir genangan air pasang terendah, karena agar lebih dekat dengan pengunjung yang mengambil tempat bersantai di tanah lapang daerah genangan. Mengingat kondisi seperti itu, pihaknya yang pernah menggagas penanaman pohon asam jauh di sekeliling pinggir waduk terpaksa harus diurungkan.

Sebab, pihaknya lebih memperhartikan kepentingan para pemilik warung tenda tersebut jika bisa disarankan atau diminta untuk bergeser ke pinggir keliling lokasi waduk. Sehingga jika semua warung bisa berdiri menghadap ke waduk, maka bagian depannya bisa dibuatkan akses jalan agar pengunjung yang berkendara mobil maupun motor ke beberapa lokasi kantong parkir.

Melalui upaya penataan itu, diharapkan kawasan daerah genangan saat musim kemarau tidak dimanfaatkan meskipun berubah menjadi tanah lapang. ”Setelah kondisi tersebut berlangsung, maka saat mulai turun hujan sampai menjelang kemarau berikutnya atau sekitar Agustus volume waduk kembali penuh, dan airnya baru dikeluarkan untuk para petani yang membutuhkan,”imbuhnya.