Muncul Beberapa Cerita Dongeng dalam Pertunjukan GSMS

0
144
Salah satu adegan dalam cerita dongeng asal-usul Reog Ponorogo, Raja di Kediri dengan putrinya Dewi Sangga Langit yang ditampilkan GSMS SDN 03 Bakaran Kulon, Kecamatan Juwana.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, SOAL cerita dongeng, nusantara ini sebenarnya kaya akan cerita tersebut termasuk di antaranya Pati. Apalagi cerita yang berkait dengan asal-usul, seperti asal-usul nama desa atau suatu tempat jumlahnya banyak sekali, di antaranya nama Sani, Waduk Gunungrowo, Cebolek, Bakaran, dan masih banyak lagi yang lain.

Akan tetapi cerita-cerita yang disampaikan dengan bertutur tentang kearifan lokal sekarang ini di sekolah atau di kalangan anak-anak SD sudah tidak lagi terdengar, karena dianggap sudah tidak menarik dan ketinggalan zaman. Lagi pula, banyak di antara para guru itu yang tidak mempunyai kemampuan untuk mendongeng/bercerita secara tutur.

Dengan demikian, tampilnya seni pertunjukan dari hasil program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Tahun 2021 di lingkungan SD maupun SMP, minimal memunculkan kembali cerita-cerita yang nyaris terpendam. Beberapa kali pertunjukan tersebut, di antara sekolah peserta pembelajaran program itu ada yang menampilkan cerita seperti Timun Mas, Cindelaras, Ande-ande, Dewi Sekartaji, dan juga cerita tentang asal-usul kesenian tradisional di Jawa Timur, Reog Ponorogo.

Kesenian yang sudah menarik perhatian negara lain ini beberapa tahun lalu pernah diklaim sebagai kesenian milik negeri jiran, Malaysia. Karena itu, biar generasi anak-anak sekarang mengetahui asal-usul kesenian Reog Ponorogo dan juga tentang Barongan, semua ada asal-usul ceritanya yang ditampilkan dalam pertunjukan ketoprak GSMS yang masih berlangsung hingga hari ini, di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pati.

Adegan lain dalam cerita asal-usul Reog Ponorogo dalam tampilan seni pertunjukan program GSMS, di SKB Pati, Rabu (3/November) kemarin.(Foto:SN/aed)

Terlepas dari bentuk penampilannya dalam seni pertunjukan ketoprak jika cerita tersebut divisualisasikan tidak salah interpretasi oleh pembesut atau sutradaranya, tersebutlah sebuah Kerajaan Kediri yang mempunyai seorang putri cantik, Dewi Sangga Langit. Karena kecantikannya itu, banyak raja-raja maupun pangeran dari kerajaan lain melamarnya, tapi putri raja Kediri itu belum bersedia menerimanya.

Akibat desakan orang tuanya, Sangga Langut bersedia dilamar tapi dengan syarat saat kedatangannya yang melamar harus diiring 140 prajurit berkuda kembar, dan harus juga membawa seekor binatang berkepala dua, serta menyuguhkan pementasan hiburan yang belum pernah ada di Kediri. Atas tuntutan persyaratan tersebut banyak pelamar yang mengundurkan diri, tidak sanggup kecuali dua raja masing-masing Singobarong dari Lodaya dan Raja Kelana Swandana dari Bantarangin.

Akan tetapi, ketika Raja Kelana berangkat ke Kediri untuk melamar sesuai persyaratan, diam-diam Singobarong mencegatnya di tengah hutan, hendak merampasnya sehingga perang di antara prajurit dua kerajaan tak bisa dihindari. Dalam kondisi itu, Raja Kelana melihat satu peluang di mana saat prajuritnya sedang berperang, ternyata Singobarong justru enak-enakan mengantuk sehingga burung merak yang dibawa serta Raja Kelana Swandana pun dilepas ke arah Singobarong itu.

Burung merak tersebut langsung hinggap dan bertengger di leher Singobarong untuk mematuk kutu-kutu yang ada pada rambut raja itu. Kesempatan pun tidak disia-siakan Raja Kelana Swandana, maka dengan kesaktian cemeti atau pecut Samandiman dilecutkan ke arah Singobarong, seketika Singobarong berubah menjadi binatang berkepala singa dengan burung merak bertengger di lehernya, tak bisa kembali lagi seperti semula.

Karena itu, kapala singa dan burung merak tersebut menjadi bagian dari bentuk Singobarong lengkap dengan dadakmerak yang sampai saat ini di Ponorogo atau di Jawa Timur dikenal sebagai reog. Sedangkan di Jawa Tengah, banyak pula yang menyebutnya sebagai barongan yang dikenal juga sebagai Gembong Amijo, karena lain cerita asal-usulnya.

Dalam kesempatan penampilan pertunjukan hasil program GSMS hari ketujuh, Rabu (3/November) kemarin, selain tampil pertunjukan ketoprak dengan cerita asal-usul Reog Ponorogo juga ada pertunjukan yang sama dari GSMS SMPN 4 Juwana menampilkan cerita ”Joko Bodho.” Selebihnya tampilan ketoprak dari GSMS SDN 01 Karangrejo, Kecamatan Juwana membesut cerita ”Saridin Andum Waris,” untuk SDN 01 Pati Wetan dengan sendratari ”Jaka Tingkir,” SDN 02 Sekarjalak, Kecamatan Margoyoso seni musik ”Dendang Nusantara,” dan ketoprak dari GSMS SDN 1 Dukuhseti cerita ”Trisno Sinunging Ludiro.”

Sesuai jadwal di hari ke-8, Kamis (4/November) 2021 akan tampil GSMS SDN 01 Godo, Kecamatan Winong dengan tampilan pertunjukan ketoprak cerita ”Roro Jonggrang,” dilanjutkan dari SDN 01 Bulumulyo, Kecamatan Batang membesut cerita ”Pengkhianatan Raden Pusara,” dan SDN Kepohkencono, Kecamatan Pucakwangi membawakan cerita ”Sendang Sani.” Berikutnya kesenian Mandailing akan tampil lagi dimainkan oleh GSMS SDN 01 Kertomulyo, Kecamatan Trangkil.

Untuk tampilan kesenian tersebut kali ini akan membawakan cerita ”Raja Mati,” dan dilanjutkan lagi dengan sendratari tentang sejarah tari mandailing oleh GSMS dari SDN 02 Ngarus, Kecamatan Pati. Sedangkan penampilan terakhir nanti malam kembali digelar pertunjukan ketoprak dari GSMS SDN Kudur, Kecamatan Winong dengan membesut cerita ”Sang Gajahmada”.