Di Tepian Waduk Gembong Terdapat Petilasan Tempat Istirahat Ki Ageng Sela

0
46
Lokasi sisi selatan tepi Waduk Seloromo Desa/Kecamatan Gembong yang disebut-sebut sebagai tempat yang pernah digunakan beristirahat Ki Ageng Sela saat dalam perjalanan ke Muria.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, BEBERAPA tahun lalu di sisi selatan tepian Waduk Seloromo Desa/Kecamatan Gembong dengan kondisi lahan ditumbuhi rimbunnya pepohonan, muncul bangunan ”cungkup” yang disebut-sebut sebagai lokasi yang pernah digunakan tempat beristirahat Ki Ageng Selo. Kala itu tokoh yang memang dikenal ”hurdug samaladug,” karena berhasil menangkap petir tengah dalam perjalan dari Selo Grobogan, Purwodadi ke Muria.

Berdasarkan naskah cerita babad, Ki ageng Selo hidup semasa Kerajaan Islam pertama Demak Bintoro dengan nama di masa kecilnya adalah Bagus Sogom, putra Kia Ageng Getas Pendawa yang beristrikan Nyi Ageng. Selain berputra Ki Ageng Ngenis juga Nyai Ageng Saba yang bercucu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani, dan berbuyut Panembahan Senopati.

Dengan demikian, Ki Ageng Sela adalah guru dari kedua orang tersebut, dan juga guru Mas Karebet yang juga dikenal sebagai Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo saat berkuasa sebagai Sultan di Pajang. Selain itu murid lainnya adalah Ki Ageng Penjawi yang kesemuanya adalah orang-orang yang memang mempunyai kelebihan dibanding lainnya, sehingga jika tidak ada yang mengendalikan para muridnya itu bisa liar seliar kilatan petir yang menyambar-nyambar.

Karena itu, Ki Ageng Sela juga dikenal sangat melegenda sebagai orang sakti yang bisa menangkap petir sebagaimana diceritakan, di suatu sore saat sedang mencangkul di sawah cuaca di langit mendung tebal dan gelap. Sesaat kemudian turun hujan deras dengan petir menyambar-nyambar, dan saat sambaran petir itu menuju ke sasaran Ki Ageng Sela, langsung menangkapnya sehingga diikatlah petir itu ke pohon gandri.

Oleh tangan-tangan kreativ, arah masuk dari tepi waduk ke petilasan tempat beristiharatnya Ki Ageng Selo sengaja disusun pagar dari cabang pohon.(Foto:SN/aed)

Dengan demikian yang dipercaya oleh masyarakat sampai sekarang jika mendung atau hujan diikuti dengan sambaran petir, maka untuk menghindari dari sambaran itu dengan menyebut diri sebagai cucu Ki Ageng Selo. Sebab, petir yang berhasil ditangkap dan diikat di pohon gandri itu memang mengaku sebagai taklukan Ki Ageng.

Terlepas dari sejauh mana kebenarannya, tapi yang jelas bahwa Ki Ageng Selo memang tokoh yang melegenda pada masanya, dan dikenal senang bertapa di gua-gua, dan juga berkelana. Karena itu, dalam suatu kali perjalanan menuju ke Muria, Ki Ageng Selo menyempatkan beristirahat di lokasi yang terdapat dan tumbuh pohon kuda atau jaranan cukup besar.

Letaknya kira-kira di sisi selatan waduk yang sekarang, dan jarak antara Gembong dengan Muria juga sudah sangat dekat. Sampai akhirnya lokasi tersebut ditengarai oleh para tetua, bahwa di lokasi itulah sebagai tempat yang pernah digunakan untuk beristirahat Ki Ageng Selo saat dalam perjalanannya menuju ke Muria.

Akan tetapi, papar beberapa warga konon yang menjadi lokasi di pinggir waduk dengan rimbunnya pepohonan itu, adalah dari salah seorang warga di Juwana yang terkabul nadzarnya. ”Karena itu, dibangunlah semacam cungkup yang bisa dimanfaatkan untuk beristirahat bagi yang hendak ngalap berkah di tempat tersebut,”ujar salah seorang di antara mereka, Yanto.