Kominfo Temukan Ribuan Hoaks Covid-19 dan Vaksinasi di Sosmed

0
15

SAMIN-NEWS.com, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat sejak Januari tahun 2020 hingga 18 November 2021 ribuan lebih ditemukan kasus hoaks seputar Covid-19 serta vaksinasi dari 5.131 unggahan media sosial dengan persebaran terbanyak pada Facebook sejumlah 4.432 unggahan.

Disebutkan banyak masyarakat Indonesia termakan berita-berita bohong atau hoaks terkait Covid-19 maupun vaksinasi.

Pusaran hoaks ini seperti kabar duka hilangnya nyawa seseorang yang terkena Covid-19 karena percaya bahwa Covid-19 itu tidak nyata, hanya flu biasa bahkan ada yang menganggap Covid-19 sebagai konspirasi elit global.

“Tercatat sejak Januari 2020 sampai dengan 18 November 2021. Pemutusan akses telah dilakukan terhadap 5.004 unggahan dan 127 unggahan lainnya sedang ditindaklanjuti,” kata Juru Bicara Kominfo, Dedy Permadi dikutip CNNIndonesia, Jumat (19/11/2021).

Selain hoaks Covid-19 juga terkait vaksinasi, data yang dimiliki Kominfo ditemukan sebanyak 390 isu pada 2425 unggahan media sosial dengan persebaran terbanyak pada Facebook sejumlah 2233.Pemutusan akses telah dilakukan Kominfo terhadap 2425 unggahan tersebut.

“Untuk isu Hoaks Vaksinasi Covid-19, di minggu ini terdapat penambahan sejumlah 8 isu dan 27 unggahan hoaks. Di pekan sebelumnya, pertambahan isu vaksinasi Covid-19 adalah sebanyak 8 isu dan 32 unggahan hoaks,” lanjutnya.

Dedy melaporkan pada 12 November 2021, Kominfo menemukan informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan, dalam hal ini ditemukan poster Covid-19 yang mengajak para orang tua untuk menyumbangkan organ anak-anak mereka. Informasi ini sangat jauh dari fakta yang ada.

Selanjutnya, Negara Jepang lebih memilih Invermectin dibanding vaksinasi untuk penanganan Covid-19, di aplikasi Facebook yang mengklaim orang yang disuntik vaksin cenderung mengalami perubahan mental dan fisik, beredar potongan video di sosial media dengan bahasa asing yang menyebutkan istri CEO Pfizer, salah satu perusahaan manufaktur vaksin Covid-19 meninggal dunia akibat komplikasi Vaksin. Dedy mengingatkan ini juga keliru tak lebih dari diinformasi.

“Dengan menghentikan persebaran hoaks Covid-19, melakukan literasi digital, semangat melakukan vaksinasi, serta taat protokol kesehatan, bersama kita mampu dalam menekan risiko persebaran Covid-19,” pungkasnya.