Nonton Peserta ”Workshop” Nulis Naskah Cerita Ketoprak

0
64
Salah seorang narasumber dalam ''workshop'' penulisan naskah cerita ketoprak, Laswito ''Thukul'' (dua dari kiri) berada di tengah-tengah peserta yang menulis naskah cukup di lantai balai Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, BERSAMAAN penyelenggaraan ”Kertomulyo Culture Festival,” maka selama, sehingga tiga hari di desa kawasan pesisir wilayah Kecamatan Trangkil ini juga berlangsung ”workshop” penulisan naskah cerita ketoprak. Pesertanya berjumlah 50 orang berasal dari kalangan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan juga para guru sehingga merupakan salah satu langkah maju di Pati.

Sebab, selama ini seni pertunjukan ketoprak bila tampil dalam pementasan selalu membesut cerita yang sudah ada atau sudah menjadi pakem dan para pemainnya cukup diberikan garis besar cerita beserta inti dialognya. Dengan demikian, di sinilah kekuatan karakter pemain dituntut untuk bisa maksimal berimprovisasi, tapi setelah GSMS menjadi program pembelajaran di sekolah-sekolah peserta seniman yang bertindah sebagai pelatih sekaligus sutradara, tentu bisa hanya mengandalkan kekuatan improvisasi.

Model tersebut tentu tak bisa dilakukan, mengingat objek sasaran yang digarap atau dipersiapkan adalah anak-anak usia SD dan tertinggi SMP, sehingga untuk bisa memperagakan perannya harus berdasarkan membaca dan menghafal naskah. Karena itu seniman yang harus melaksanakan pembelajaran seni peran dan seni pertunjukan ini dengan menyiapkan naskah ceritanya, sehingga anak-anak nanti harus menghafalnya.

Mengingat hal tersebut, maka pihak Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati ketika dipercayakan kepada Paryanto, maka yang bersangkutan pun menggagas pelaksanaan ”workshop” penulisan naskah cerita ketoprak tersebut. Akan tetapi, menjelang tahapan pelaksanaannya penggagas kegiatan ini harus bergeser dari jabatannya ke jabatan yang lain, dan program itu tetap harus terlaksana.

Kelompok peserta ”workshop” penulisan naskah cerita ketoprak di Balai Desa Kertimulyo, Kecamatan Trangkil.(Foto:SN/aed)

Apalagi, jika jumlah peserta kegiatan tersebut sebanyak 50 orang sehingga penulis pun tertarik untuk melihat bagaimana mereka harus menuliskan naskah cerita ketoprak itu. Ternyata jumlah tersebut sehari sebelumnya atau Jumat (22/Oktober) kemarin sudah dibagi menjadi sepuluh kelompok atau tiap-tiap kelompok berganggotakan lima orang yang masing-masing harus menulis minimal dua adegan, dan untuk adegan berikutnya diganti anggota kelompok tersebut yang lain.

Jika masing-masing anggota kelompok menuliskan naskah cerita untuk dua adegan, maka paling tidak dalam satu kelompok itu harus menuliskan satu naskah cerita dengan sepuluh adegan. Pada saat teori ini harus dilaksanakan, ternyata tiap anggota kelompok jelas tak bisa menuliskan cerita dalam adegan tanpa terlebih dahulu membaca cerita adegan pertama dan kedua yang ditulis orang pertama dalam kelompok tersebut, dan seterusnya.

Kesulitan dalam mempraktikkan rencana penulisan naskah seperti itu, akhirnya lima anggota kelompok harus bekerja sama atau saling bahu membahu ada yang menggagas dialog dalam alur cerita dan yang lain menuliskannya pada lembaran kertas yang disediakan panitia. Sebab, paling tidak dalam satu hari ini harus jadi, kemudian dikumpulkan dan dievaluasi sehingga hasilnya tidak ada muncul gagasan untuk menuliskan cerita baru, melainkan ”membarukan” cerita-cerita lama yang selama ini ada.

Dari hasil penulisan cerita sepuluh kelompok peserta ”workshop” yang terbaik, oleh panitia sebagai naskah cerita untuk dipentaskan juga oleh para peserta yang dibagi menjadi kelompok, masing-masing dengan durasi dua jam. Waktu pelaksanaan pementasan seni pertunjukan tersebut dijadwalkan 9 dan 10 November bulan depan secara bergantian juga di Desa Kertomulyo.

Ya, nanti kita nonton lagi. Hasil penulisan naskah cerita ketoprak oleh kelompok lima yang mana??