Dua Bos Ketoprak Ternama di Pati Jadi Narasumber ”Workshop” Penulisan Naskah Cerita

0
132
Satu di antara tiga narasumber dalam ''workshop'' penulisan naskah cerita ketoprak adalah Laswito ''Tukhul'' (kiri ), pemimpin Ketoprak Cahyo Mardiko.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Memasuki hari kedua dalam pelaksanaan ”workshop” penulisan naskah cerita ketoprak di Balai Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, kembali menampilkan tiga narasumber. Masing-masing, satu di antaranya dari Yogyakarta, Bondan Nusantara, dan dua lainnya adalah pemimpin sekaligus juragan ketoprak ternama di Pati, yaitu Sarjimin ”Mogol” dari Wahyu Manggolo, serta Laswito ”Thukul” pemimpin grup Ketoprak Cahyo Mardiko.

Kedua narasumber yang disebut terakhir, tentu lebih menitikberatkan pada pengalamannya dalam memainkan naskah cerita yang selama ini ada, dan bahkan Thukul menyebutkan pihaknya mempunyai kumpulan 127 cerita yang semunya atau kebanyakan setiap cerita tentu berlatar belakang munculnya konflik.

Dengan kata lain, jika cerita ketoprak tidak berkonflik hal itu bukan cerita ketoprak melainkan cerita orang ngobrol, tanpa alur sambil minum kopi. ”Karena itu, adanya pesan khusus bahwa dalam menulis naskah cerita ketoprak tanpa konflik jelas tak bisa dihindari, dan itu sudah menjadi bagian dari seni pertunjukan untuk memberikan daya tarik kepada penonton,”tandasnya.

Narasumber, Bondan Nusantara dalam ”workshop” penulisan naskah cerita ketoprak yang diikuti 50 peserta baik kalangan seniman dan juga guru sekolah di Pati.(Foto:SN/aed)

Sedangkan latar belakang timbulnya konflik, lanjut dia juga sepertinya sudah klise, yaitu soal tahta, harta dan wanita yang berlanjut juga pada terjadinya pembunuhan dan pemberontakan. ”Karena itu, semua adalah kembali kepada peserta untuk menuangkan konflik tersebut dalam naskah cerita yang ditulisnya,”imbuh Thukul.

Sementara itu, Bondan Nusantara yang lebih banyak menyampaikan materi dalam menuliskan naskah cerita ketoprak dalam menanggapi hal tersebut, adalah apa yang menjadi argumen penulis dalam memunculkan terjadinya konflik dalam naskah cerita tersebut yang ditulis. ”Misalnya, terjadinya peperangan karena ingin menduduki tahta sebagai penguasa, maka argumentasinya jelas dalam menuliskan cerita tersebut,”ujarnya.

Di sisi lain, narasumber Sarjimin ”Mogol” menyampaikan hal berkait dengan cara peserta menuliskan naskah cerita yang dilakukan secara berkelompok, dan tiap anggota kelompok masing-masing harus menuliskan alur cerita pada adegan pertama dan kedua. ”Mengusul orang kedua dalam kelompok itu harus menuliskan adegan ketiga dan keempat, serta seterusnya lima orang anggota kelompok tersebut bisa menuliskan cerita semua,”papar dia seraya menambahkan bahwa jumlah peserta ada 50 orang yang dibagi dalam sepuluh kelompok.