Menonton Pertunjukan Ketoprak GSMS; Belum Saatnya Terlalu Banyak Berharap dari Anak-anak

0
43
Tampilan ketoprak GSMS dari SD Negeri Tanjunganom, Kecamatan Gabus dalam cerita ”Baron Skeber.”(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, TAMPILAN hasil akhir untuk gelaran seni pertunjukan ketoprak atau sebut juga teater tradisional dari program pembelajaran Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) ini, sebenarnya adalah merupakan ajang adu kebolehan dan kemampuan para seniman dalam mengkemas sebuah tontonan. Karena itu, jika seniman yang bersangkutan tidak mampu mengkemasnya secara maksimal, maka tampilan hasil jerih payahnya pasti akan kedodoran.

Sebab, satu hal yang harus diingat dan disadari, bahwa objek pembelajaran yang menjadi sasaran adalah anak-anak sehingga dalam banyak hal masih serba terbatas kemampuannya. Dengan kata lain, jika menonton seni pertunjukan oleh anak-anak ini standar ukurannya harus pada dasar kemampuan anak, tak boleh melebihi kapasitas yang dimilik oleh masing-masing yang ikut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut.

Karena itu, jika penampilan pertama anak-anak ini rata-rata masih belum maksimal atau bisa memenuhi selera maupun keinginan yang menonton memang itulah hasil maksimalnya dalam proses pembelajaran selama empat bulan. Dengan demikian, program pembelajaran seni pertunjukan melalui GSMS ini seharusnya tetap dilanjutkan.

Sedangkan dari apa yang kali pertama bagi anak-anak SD maupun SMP yang ikut ambil bagian, hal tersebut anggap saja sebagai upaya pengenalan terhadap apa yang selama ini asing bagi meraka. Apalagi selama ini mereka mengenal ketoprak dan gamelan hanya dari saat menonton jika di tempat tinggalnya ada tontonan pertunjukan kesenian itu, tapi ternyata saat ini mereka harus terlibat langsung sebagai pemain maupun penabuh gamelan.

Salah satu adegan dalam cerita carangan ”Lutung Kembar Telu” yang ditampilkan murid-murid dari SMP Negeri 2 Margoyoso.(Foto:SN/aed)

Jika dalam waktu dekat yang bisa banyak diharap adalah tampilan anak-anak yang menjadi penabuh gamelan pengiring dalam pertunjukan masing-masing. Sehingga bila tetap diupayakan mereka untuk terus berlatih menabuhnya, maka paling tidak hasilnya mereka benar-benar akan menjadi penabuh gamelan yang bisa diharapkan tidak hanya sekadar bisa mengiringi pertunjukan seni ketoprak melainkan juga wayang kulit.

Sedangkan untuk seni peran anak-anak yang ikut ambil bagian dalam pertunjukan ketoprak, biarlah untuk kali pertama ini mereka mengenalnya. Kendati demikian, jika terus ada upaya dari pihak-pihak yang peduli tidak hanya pihak sekolah tapi juga dari lingkungan pemerintahan desa memperhatikannya maka mereka bisa melanjutkan berlatih di bawah bimbingan para seniman.

Apalagi, ada di antara seniman program GSMS ini yang berlatar belakang dengan kemampuan menggarap seni teater modern sebagaimana ditampilkan SD Negeri Tanjunganom. Hanya saja, konsistensi dalam menggarap kemampuan anak-anak masih gamang dalam kemasan cerita Baron Skeber.

Sebab, seniman yang bersangkutan belum berani menggelar pertunjukan itu dalam bentuk arena, sehingga masih terjebak sistem buka/tutup layar panggung seperti seni teater tradisional, ketoprak. Padahal setiap pergantian adegan untuk menata dekorasi atau setting panggung bisa dilakukan dengan mematikan lampu.

Kegamangan juga terjadi dalam menggarap unsur dolanan bagi anak-anak dalam cerita yang dibesut dari cerita aslinya. Untuk kreativitas seniman pembesut cerita Baron Skeber ini terhitung lumayan, karena bisa menjadikan properti perahu/kapal yang ditumpangi Baron Skeber difungsikan untuk setting adegan yang satu dan lainnya.

Sementara itu, untuk catatan tampilan anak-anak dari SMP Negeri 2 Margoyoso, seniman yang menggarap lakon ”carangan” atau hasil karya sendiri berjudul ”Lutung Kembar Telu,” juga masih kebingungan dalam mengkemas adegan demi adegan. Dengan demikian, kita memang jangan terlalu mengharap banyak dari anak-anak yang baru kali pertama terlibat dalam tampilan seni pertunjukan.