Melalui GSMS Anak-anak SMP Negeri 3 Tambakromo Diharapkan Mampu Mengembangkan Seni Peran

0
180
Kepala SMP Negeri 3 Tambakromo, Dra Nur Muntadliroh MPd saat memberikan arahan pada peserta didiknya yang mengikuti program Gerakan Seiman Masuk Sekolah (GSMS) yang menampilkan seni pertunjukan ketoprak (atas) dan pelatih serta sutradara seni pertunjukan tersebut, Azis (bawah).(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Secara terbuka Kepala SMP Negeri 3 Tambakromo, Dra Nur Muntadliroh sempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemampuan peserta didiknya yang mengikuti program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Sebab, pada awalnya kemampuan anak-anak dalam berlatih seni peran untuk seni pertunjukan ketoprak saat itu benar-benar belum bisa maksimal.

Akan tetapi setelah proses pelatihan terus berjalan, kini kondisi tersebut sudah berubah karena anak-anak mulai mampu melaksanakan seni peran sesuai tuntutan cerita yang dibesutnya. Yakni, Haryo Penangsang Gugur, sehingga dari belajar seni peran tersebut nantinya anak didiknya juga mampu mengembangkannya secara maksimal, karena siapa tahu dari kemampuan seni peran itu bisa menjadi bekal di masa depannya, apalagi jika ada sutradara yang melihat dan tertarik.

Sementara itu, dari pantau di tempat berlangsungnya ketoprak GSMS SMP yang bersangkutan, dari sisi kemampuan anak-anak dalam memahami peran masing-masing sebagaimana menjadi tuntutan naskah, tetap masih ada yang harus dimaksimalkan. Utamanya, adalah respons antarpemeran satu dan yang satunya secara spontan belum terlihat, tapi pelatih dan sutradara masih ada kesempatan untuk menggarapnya.

Ratu Kalinyamat bersama suaminya Pangeran Hadirin bersama kedua putri Sunan Prawoto, Semangkin dan Prihatin, melihat Prawoto yang meninggal dibunuh soreng utusan Haryo Penangsang (atas). Kalinyamat menuntut pengadilan kepada Sunan Kudus atas kematian tersebut (bawah).(Foto:SN/aed)

Dari sisi vokal, rata-rata sudah mampu memaksimalkan aksen/intonasi dialog sesuai karakter masing-masing tokoh yang diperankan, termasuk pengaturan tempo/ritme sehingga kesan monoton bisa dihindari. Sehingga jika rutinas jadwal berlatih sebelum petunjukan hasil GSMS dilaksanakan frekuensinya jam pertemuannya bisa ditambah, maka si pelatih dan sutradara akan mampu memaksimalkannya.

Terlepas dari itu, satu hal yang mempunyai nilai lebih dalam seni pertunjukan GSMS SMP ini adalah khusus para penabuh gamelan pengiring, sebanyak 13 orang ternyata semuanya adalah murid perempuan atau para siswi. Dengan demikian, paling tidak jika mereka masih berkumpul dalam satu sekolah nantinya bisa ditindaklanjuti berlatihnya melalui ekstrakurikuler.

Adegan saat Sunan Kudus (kiri) memberikan arahakan kepada murid terkasihnya, Haryo Penangsang.(Foto:SN/aed)

Sedangkan pilihan cerita yang dibesut dalam GSMS tentang  Haryo Penangsang Gugur, adalah cerita yang sudah sering dipertontonkan dalam seni pertunjukan ketoprak profesional yang kadang-kadang harus berlangsung secara serial. Akan tetapi, bagi anak-anak yang beranjak ke usia remaja ini tentu mempunyai daya tarik tersendiri sebagai tantangan, untuk memerankan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, terutama Haryo Penangsang serta Ratu Kalinyamat.

Cerita tentang perseteruan Haryo Penangsang dan Sultan Pajang, Hadi Wijoyo beserta trah Demak Bintoro lainnya, karena Penangsang adalah sebagai pewaris sah Kasultanan Demak, mekipun akhirnya jatuh ke Hadi Wijoyo yang statusnya hanyalah menantu. Akan tetapi, akhirnya justru berhasil menduduki penguasa dengan memindahkannya ke pedalaman, Pajang, dan konflik tersebut sudah terjadi pada masa Trenggono dengan ayah Haryo Penangsang, yaitu Surowito yang juga disebut Pangeran Sekar Sedalepen.