Ketoprak GSMS SD Pekalongan Mengangkat Cerita Dongeng Timun Mas

0
206
Usianya memang baru duduk di bangku SD Kelas IV Pekalongan, Kecamatan Winong  tapi anak ini mampu mengusai untuk menabuh kenong (atas) dan demikian pula yang lainnya, bisa memainkan bonang dengan tetap mendapat bimbingan dari pelatihnya, Jaswadi, seniman asal Winong juga.(bawah).(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, Di bawah asuhan seniman dari Desa/Kecamatan Winong, Jaswadi, maka ketoprak hasil besutan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) untuk SD Pekalongan mendapat seorang pelatih yang mampu mengelola seni pertunjukan dan juga gamelan pengiringnya. Karena itu, sudah semestinya jika usai program ini pihak kepala sekolah akan melanjutkan latihan berikutnya, masuk dalam ekstra kurikuler.

Alasannya, karena seniman yang bersangkutan ada di lingkungan sendiri sehingga tidak perlu harus datang dari jauh-jauh. Lagi pula, anak-anak juga sudah terbiasa dengan model seniman yang bersangkutan dalam melatih anak-anak, di mana dalam kesempatan ini mebawakan cerita dongeng yang sudah tidak asing lagi, yaitu ”Timun Mas” atau ”Mentimun Emas.”

Akan tetapi, papar yang bersangkutan, sekarang cerita dongeng itu sudah jarang peminatnya untuk mengetahui atau membacanya, sehingga dongeng pangantar tidur bagi anak-anak dirasakan jarang dilakukan oleh para orang tua. ”Masalahnya, anak-anak sekarang lebih cenderung senang menonton film anak-anak yang ditayangkan di televisi,”ujarnya.

Petinggi Desa Rawa Bening (kiri) saat harus menghadapi Buto Ijo (kanan) yang dilaporkan oleh warga banyak menculik bayi-bayi yang dijadikan santapannya.(Foto:SN/aed)

Karena itu, lanjut dia, pihaknya sengaja membesut cerita dongeng tersebut, mengingat sebenarnya banyak cerita dongeng yang juga memberikan teladan bagi anak, seperti harus bekerja keras dan juga tentang benar serta salah, baik dan buruk. Sehingga cerita dongeng itu juga menegaskan pada anak, bahwa perbuatan buruk itu sampai kapan pun tak akan selalu ditentang oleh banyak orang.

Sedangkan perilaku buruk dalam cerita ini digambarkan sebagaimana perbuatan Butoijo, karena memberikan biji mentimun kepada Mbok Randa yang bertempat tinggal di pinggiran hutan. Setelah biji mentimun itu di tanam berbuah besar yang ternyata di dalamnya berisi seorang bayi perempuan, dan diminta untuk menjadi santapan Buto Ijo jika nanti sudah berusia dewasa, 17 tahun.

Suasana latihan pertunjukan ketoprak GSMS SD Pekalongan Winong, lengkap dengan anak-anak penabuh gamelan pengiringnya.(Foto:SN/aed)

Singkat cerita, tiba saatnya Mbok Randa harus memenuhi janjinya dengan Buto Ijo, maka bersama Timun Mas harus mengatur cara agar bisa mengalahkan raksasa itu dengan minta pertolongan pada seorang pertapa. Mbok Randa diberi empat kantong berisi biji mentimun, jarum, garam, dan juga terasi yang kemudian diserahkan kepada putrinya, Timun Mas.

Karena saat hendak dibawa untuk santapan Timun Emas tidak bersedia dan bahkan lari sekencang-kencangnya, maka Buto Ijo pun mengejarnya sehingga Timun Emas menebarkan biji mentimun, dan ajaibnya mentimun itu tumbuh menjalar sampai melilit tubuh raksasa itu. Tapi Buto Ijo tetap bisa lolos dan kembali mengejar, maka Timun Emas ganti menebar isi kantong kedua ternyata jarum berubah menjadi tumbuhan bambu runcing.

Lagi-lagi Buto Ijo bisa lolos, dan kembali mengejar Timun Emas yang kali ini ganti menebar isi kantong ketiga yang berisi garam, maka tempat tersebut berubah menjadi lautan tapi Buto Ijo belum juga menyerah. ”Isi kantong terakhir berisi terasi (bekacan) pun ditebarkan, tempat itu berubah menjadi lautan lumpur, barulah raksasa tersebut hanyut dan tenggelam dalam lautan lumpur tersebut, dan akhirnya mati.

Selamatlah Timun Emas dari ancaman Buto Ijo.