Gelaran Ucapan ”Maturnuwun Bapak Paryanto” dan Obsesi Seniman di Pati

0
136
Gamelan dan tampilan seni barongan mengiringi pembacaan puisi yang dikemas seniman Pati dalam gelaran ucapan ”Maturnuwun Bapak Paryanto, di pendapa Kemiri, Minggu (10/Oktober) 2021 kemarin.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, DIPERSIAPKAN relatif singkat tampilan seniman di Pati dalam program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS)Tahun 2021, akhirnya mengalir dan berubah menjadi obsesi para seniman. Yakni, mereka benar-benar merindukan tampilan dalam panggung hiburan yang  sudah dua tahun terpuruk, karena masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan hingga sekarang.

Karena itu, pada momentum menggelar ucapan ”Maturnuwun Bapak Paryanto” yang sejak Jumat 1 Oktober harus alih tugas dari Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati ke dinas lain, para seniman memang seperti kehilangan sosok yang dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini memberikan suasana lain. Minimal, upayanya untuk merangkai kembali rukunnya ego seniman Pati yang hanya mudah diucapkan tapi pelaksanaannya tetap masih jauh dari harapan.

Minimal melalui propgram GSMS dari Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, di mana untuk Kabupaten Pati sampai sekarang sudah empat tahun berjalan. Sehingga harapannya tentu para seniman ini benar-benar mempunyai andil peran dalam membina dan mewujudkan pertahanan seni budaya lokal generai melenial dari ancaman keterpurukan.

Dengan demikian, besutan tampilan para seniman yang tetap patuh dalam protokol kesehatan (Prokes) di Pendapa Kemiri, Minggu (10 Oktober 2021) kemarin pun mengalir dari waktu yang dijadwalkan, mulai pukul 08.00 s/d 12.00. Bahkan tak sengaja, muncul tampilan spontanitas, awalnya sekadar bernyanyi akhirnya bertambah, seperti solo gitar, dan juga tampilnya komedian yang biasa bernyanyi dengan tampilan sosok perempuan cantik, di luar randown acara.

Diiringi tampilan paridaka penari kotemporer saat Ketua Panitia Bowo Asmoro (jongkok) dalam keharuan menyerahkan cinderamata kepada mantan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Paryanto.(Foto:SN/aed)

Adapun besutan acara yang akhirnya  menjadi obsesi para seniman itu memang ada ditampilkan tari bedaya, selain seni barongan dalam puisi. Khusus kesenian yang satu ini di Pati memang tidak lagi menonjol bila dibanding dari daerah lain seperti Kudus dan Blora, tapi dalam kesempatan kemarin seniman Tewel dan Jono beserta yang lainnya mencoba menyajikannya.

Ternyata, tampilan barongan yang menjadi pengiring suasana pembacaan puisi juga bisa membangun suasana lain sebagai tontonan seni pertunjukan. Dengan kata lain, semua adalah tergantung kepada para senimannya dalam hal kreativitas, sehingga kesan yang timbul bahwa seni barongan itu bukan hanya sekadar pelengkap ritual, melainkan harus mampu menjadi tontonan yang diminati anak-anak generasi melinial.

Dalang gaek Ki Kartopel (kiri) yang ditelan kesuraman karena faktor usia saat tampil dalam ”guyon maton” bersama komedian ketoprak, Thukul.(Foto:SN/aed)

Terlepas dari hal tersebut, obesesi para seniman tidak hanya sekedar untuk bisa tampil dalam pertunjukan sebagai hiburan seperti saat dalam kondisi normal. Lebih dari itu, tugas dan tanggung jawab dalam mewujudkan seni budaya peninggalan para leluhur tetap mampu menjadi benteng budaya lokal yang dengan sendirinya juga sebagai benteng seni budaya nasional.

Akan tetapi semua itu hanya akan menjadi fatamorgana ketika kepedulian pihak yang berkompeten lepas perhatian, sehingga tidak menempatkan seni – budaya tersebut pada singgasana yang benar-benar layak. Sedangkan harapan seniman juga tak lepas dari peran Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati yang baru, pengganti Paryanto.

”Maturnuwun Bapak Paryanto…..!!”