Besutan Cerita Baron Skeber Serial ”Geger Patiayam” Akan Dimainkan Peserta Workshop Penulisan Naskah Ketoprak

0
114
Para peserta workshop penulisan naskah cerita ketoprak berfoto bersama setelah berakhirnya kegiatan tersebut di Balai Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Minggu (24/Oktober) kemarin.(Foto:SN/dok-ed)

SAMIN-NEWS.com, BERAKHIRNYA workshop penulisan naskah cerita ketoprak yang berlangsung selama tiga hari sejak Jumat (22/Oktober) hingga Minggu (24/Oktober kemarin, di Balai Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, ada dua naskah cerita yang dinilai layak untuk dimainkan dalam seni pertunjukan ketoprak oleh para peserta. Sesuai jadwal, pementasan akan digelar secara virtual di desa tersebut, 9 dan 10 November 2021 mendatang.

Dari hasil penulisan naskah cerita 10 kelompok peserta workshop tersebut yang akan dimainkan, satu di antaranya adalah besutan cerita ”Baron Skeber”  serial ”Geger Patiayam” yang ditulis oleh kelompoknya Wawan Laras Budoyo. Naskah cerita itu dinilai layak dari unsur cerita klasik ketoprak yang sebenarnya juga tidak asing lagi bagi warga Pati, tapi besutannya memunculkan konflik sejak awal.

Salah satu konflik itu di antaranya, adalah masalah kebutuhan air di musim kemarau yang bersumber atau berhulu di Gunung Patiayam, dan mengalir lewat alur Kali Kedungtelo. Selain air tersebut dibutuhkan warga Kaliampo juga warga Jambean Kidul, dan desa-desa sekitarnya tapi tiba-tiba tidak mengalir lagi sehingga di antara warga desa itu saling curiga.

Ternyata benar, tidak mengalirnya air dari Patiayam karena di bagian hulunya dibendung oleh seorang bule yang tak lain adalah Baron Skeber untuk ”kungkum” (berendam). Sehingga konflik ini pun berkepanjangan sampai Adipati Pati Pragola I atau Wasis Joyokusumo harus turun tangan, dan permasalahan pun kian melebar karena harus diselesaikan dengan adu kelebihan, sampai akhirnya Baron Skeber menjadi orang taklukan Adipati Pati.

Di sisi lain besutan naskah cerita tersebut juga memunculkan konflik, karena Baron Skeber yang berdiam di Patiayam ternyata bila malam meninggalkan tempat tinggalnya sehingga menyasar sampai di Kemiri, dan bertemu dengan salah satu putri warga setempat, Roro Suli. Konflik terus melebar sampai akhirnya permasalahan tersebut sampai didengar juga oleh penguasa Mataram, Panembahan Senopati juga meminta Baron Skeber yang semula orang taklukan Adipati Pati, dan dijadikan Juru Taman.

Apalagi, setelah diketahui sejak berakhirnya penyerangan Mataram terhadap Madiun, Pragola I juga tidak pernah lagi menghadiri ”pisowanan” afung di Mataram, sehingga oleh Panembahan Senopati dianggap Pati telah ”mbalela.” Padahal, ada sesuatu yang prinsip dan menjadi sikap Adipati Pragola, bahwa Pati bukanlah daerah taklukan Mataram, maka konflik antara kakak dan adik ipar ini tak bisa dihindari.

Sementara itu, satu naskah cerita ”carangan” berhasil ditulis kelompok peserta workshop lainnya yang mendapat jadwal gilirian untuk dipentaskan, 10 November malam juga di tempat sama. Cerita tersebut bertutur tentang masih berlakunya adat Jawa yang sampai sekarang masih juga lekat di masyarakat, yaitu soal satuan hari lahir (weton) bagi pasangan yang hendak menikah, jika antara pihak lelaki dan perempuan tidak cocok, maka pamali pernikahan dilaksanakan.

Karena itu diceritakan, ada dua wilayah kademanagan dengan mengambil latar belakang trah/turun Majapahit dan Demak Bintoro. Di mana demang trah Demak ini ternyata menjalin cinta dengan putri demang trah Majapahit, tapi rencana perkawinannya ditolak oleh Demang trah Majapahit, sehingga perang pun harus terjadi dengan kekalahan di pihak Demang trah Demak.

Dengan meninggalnya, Demang trah Demak dalam perang tersebut, membuat putri Demang trah Majapahit menjadi putus asa atas gagalnya dinikahi Demang itu. Sayangnya, oleh kelompok penulis naskah cerita tersebut begitu memutuskan, putri itu mengambil jalan pintas, yaitu bunuh diri sehingga sangat ironis.  Karena dampak dari cerita tersebut kendati banyak yang mengambil langkah tragis seperti itu akibat gagal cinta, sebenarnya masih ada pilihan akhir yang jauh lebih baik.

Semisal, ditambah adegan, putri itu tiba-tiba menghilang (muksa) dari kademangan yang meskipun sudah dikerahkan banyak orang untuk mencari, tapi juga tidak ditemukan. Endingnya di panggung, muncul putri itu dengan pakaian dan dandanan tak layak, berantakan, dan rambutnya acak-acak di perjalanan tertawa sendiri, penonton akan bisa memahami bahwa putri Demang trah Majapahit itu akhirnya, edan.