Anak-anak Peserta Program GSMS Mulai Diperkenalkan dengan Panggung Pertunjukan

0
200
Jelang semakin dekatnya waktu pertunjukan hasil pembelajaran Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), anak-anak mulai diperkenalkan dengan panggung pertunjukan sebenarnya, di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pati.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, SEMAKIN dekatnya jadwal waktu pertunjukan hasil Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Pati, baik untuk seni pertujukan ketoprak, wayang kulit, tari, musik, barongan, dan yang lain, anak-anak peserta program tersebut mulai diperkenalkan panggung pertunjukan sebenarnya. Dengan demikian, harapannya nanti saat tampil dalam pertunjukan itu benar-benar sudah bisa beradaptasi dan tidak canggung lagi.

Apalagi, bagi anak-anak baik SD maupun SMP yang mengikuti program pembelajaran seni pertunjukan ketoprak yang  personel peraga/pemainnya cukup banyak. Selain itu, durasi waktunya juga bisa lebih maksimal dibanding yang lainnya, sehingga setiap pemain harus benar-benar memahami dari mana dia harus masuk ke panggung pertunjukan maupu ke mana harus keluar setelah tugasnya dalam bermain dalam adegan per adegan selesai dilakukan.

Karena itu, pihak yang berkompeten sekaligus penanggung jawab pelaksanaan program ini memberi kesempatan kepada seniman dan pihak sekolah, untuk memanfaatkan peluang tersebut meskipun hal itu bukan keharusan. Khusus yang disebut terakhir pertimbangannya karena faktor biaya, di mana untuk membawa anak-anak dari sekolah asal sampai SKB tentu membutuhkan biaya untuk transportasi dan juga konsumsi.

Sebab, tiap kelompok/grup peserta pembelajaran dalam GSMS ini untuk mengenali panggung pertunjukan yang sebenarnya ini dimulai sejak pagi, kemudian satu kelompok selesai digantikan kelompok lainnya sampai sore hari. ”Jika menyesuaikan rencana jadwal pementasan, tiap hari rata-rata sampai lima kelompok/sekolah,”papar mantan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Paryanto.

Bagi pihak sekolah yang bisa menyediakan panggung pertunjukan sendiri, seperti SMPN 1 Jakenan, anak-anak langsung mencoba panggung tersebut di halaman sekolahnya.(Foto:SN/aed)

Kendati yang bersangkutan sejak 1 Oktober 2021 lalu tidak lagi bertugas sebagai Kabid Kebudayaan, tapi masih merasa ikut bertanggung jawab untuk memberikan semangat pada seniman maupun anak-anak peserta program itu, maka hasil akhirnya tetap harus maksimal. Dengan kata lain, anak-anak yang mulai mau mengenal seni budaya leluhurnya harus tetap diberikan tempat dan kesempatan maksimal dalam bentuk dorongan semangat, untuk menampilkan hasil-hasil program tersebut.

Terlepas dari hal itu, pengenalan panggung seni pertunjukan yang sebenarnya kepada anak-anak yang baru mengenal seni pertunjukan itu tetap ada bermanfaat dari sisi psikologis, agar saat tampil nanti tidak demam panggung. Hanya saja, dalam pementasan nanti masih belum dibuka kesempatan hadirnya para pengunjung di SKB untuk menontonnya kecuali hanya kepala sekolah dan asisten seniman.

Dengan demikian, jika masa pandemi Covid-19 ini segera berakhir, maka penghargaan atas jerih payah anak-anak dalam program pembelajaran GSMS ini perlu dicari atau dipikirkan, apa yang tepat untuk diberikan kepada mereka. Karena itu, salah satunya yang tepat adalah memberi kesempatan kepada anak-anak ini tampil di tempat terbuka secara bergantian, baik di jalan-jalan dalam kota, di GOR atau tempat lainnya dengan penonton maksimal.

Jika hal tersebut sudah diizinkan, momentum paling tepat adalah saat memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2022 atau tahun depan. Konsekuensinya, pemerintah Kabupaten Pati dan DPRD-nya harus ”legawa” mengalokasikan anggaran untuk keperluan tersebut, sehingga hal itu baru boleh disebut bahwa Pati ini adalah sebagai ”Kota Layak Anak” yang tidak hanya slogan dan isapan jempol belaka, utamanya bahwa anak adalah harapan masa depan bangsa.