Selalu Memunculkan Masalah, Alur Kali Simo Dilakukan Penataan

0
39
Alat berat jenis ekskavator ”tangan panjang” milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, mulai Selasa (7/September) 2021 beroperasi menata alur Kali Simo, di pinggir jalan raya Pati-Juwana.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Salah satu alur kali di Pati yang tiap tahun bila musim hujan memunculkan masalah, adalah alur Kali Simo di pinggir jalan raya Pati-Juwana. Status resmi tanggung jawab pengelolaannya ada pada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, karena alur kali tersebut berhulu kawasan timur Lereng Muria.

Akibatnya, bila di kawasan hulu tersebut curah hujan cukup tinggi, maka gelontoran air hujan yang membawa lumpur tanah merah tak bisa dihindari. Lebih memprihatinkan lagi, gelontoran air tersebut juga sering limpas ke jalan raya meskipun pihak Binamarga Wilayah Pati sudah berupaya mencegahnya dengan pasangan tegak di tepi alur kali yang berbatasan dengan ruas jalan tersebut.

Mengingat yang terdampak dari munculnya permasalahan tersebut, papar Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati, H Darno, mendesak pihak BBWS agar segera mengambil langkah. ”Yakni, melakukan penataan alur kali yang tiap tahun selalu bertambah dangkal dan sempit itu,” tandasnya.

Dengan dilakukannya penataan, lanjut dia, minimal sisi alur kali tersebut yang menyempit bisa sedikit bertambah lebar. Sedangkan upaya mengeruk endapan lumpurnya, paling tidak harus melalui paket pekerjaan normalisasi, tapi kendalanya selalu terbentur pada kondisi tanggul hanya ada satu-satunya yang terletak di sisi utara.

Sebab, untuk sisi selatan alur kali sudah tidak lagi memiliki lahan untuk menopang pembuatan tanggul karena sudah menjadi batas jalan raya. Sehingga, dalam melakukan penataan yang bisa dilakukan hanya memaksimalkan lebar alur ke sisi utara dengan cara membuang tanah hasil kerukan dibuang di atas tanggul tersebut.

Sedangkan kondisi lain yang memperburuk alur Kali Simo tersebut, adalah bila terjadi gelontoran luapan air dari hulu selalu membawa berbagai jenis ”sangkrah”, utamanya potongan batang pohon pisang, pangkal rumpun bambu, dan juga berbagai jenis sampah lainnya. ”Benda-benda tersebut jika menyangkut di hulu jembatan , akhirnya juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pendangkalan,” ujarnya.