Ketoprak GSMS di SD 01 Dukutalit Tampil Beda

0
443
Selain iringan gamelan untuk adegan Tamansari, untuk iringannya juga ditambah bunyi-bunyian perkusi.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, BESUTAN kesenian dalam Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Pati, tidak semata-mata harus menggarap tontonan ketoprak pada anak-anak SD yang menjadi sasaran objek tersebut. Akan tetapi, dari 60 objek sasaran untuk ketoprak memang paling banyak, dan rata-rata dikemas dalam bentuk ketoprak sebagaimana lazimnya yang selama ini ada di masyarakat, yaitu ketoprak klasik.

Akan tetapi, ketika mengunjungi pelaksanaan GSMS di SD 01 Dukutalit, Kecamatan Juwana, ternyata ada besutan tontonan ketoprak yang tampil beda. Kendati tetap berpegang pada ediom ketoprak sebagaimana lazimnya, ternyata dipadu dengan unsur senirupa yang lain, termasauk iringannya juga tidak hanya semata-mata gamelan, melainkan ada unsur perkusi lainnya baik suara kentongan bambu dan kaleng bekas.

Sebenarnya, papar pelatih yang juga sutradara tampilan ketoprak tersebut, Ratna, masih ada unsur bunyi-bunyian pengiring lainnya, yaitu suara lumpang dan alu (antan), tapi saat digunakan berlatih beberapa waktu lalu, lumpangnya pecah. Sampai saat ini, dalam upaya mencari gantinya belum mendapat, dan untuk garapan musik pengiring dari unsur ini sudah jadi, tinggal pemantapan.

Hal tersebut, baru dari satu unsur untuk musik pengiring, karena dari besutan cerita ”Catur Bumi Manunggal Pati,” atau Pati pada masa Adpati Pragola I yang juga Wasis Joyokusumo, pihaknya juga mengkemas penggabungan beberapa adegan Wayang Topeng Sonean, Kecamatan Margoyoso. ”Di sini atau dalam satu adegan, para pemainnya juga harus memakai topeng dengan karakter tokoh-tokoh wayang topeng klasik dari desa itu,”ujarnya.

Pelatih dan sutradara, Ratna dibantu asisten sutradara, Wawan saat harus memunculkan perbahan adegan wayang eblek karakter Wayang Sonean didahului dengan membuka gunungan juga dari bahan sama, oleh anak-anak peraganya.(Foto:SN/aed)

Tidak hanya itu, Ratna sang sutradara juga harus memunculkan adegan gambaran karakter wayang Sonean dari bahan bambu. Yakni, gambaran sosok tokoh dewa yang mengejawantah menjadi manusia, Sanghyang Ismoyo atau Semar yang harus menjadi titah di mercapada dengan sosok dewa lainnya penguasa khayangan Suralaya, Sanghyang Manikmaya atau juga Shangyang Jagadnata yang turun ke bumi dan berlaku semena-mena pada para titah manusia.

Karena itu perselisihan yang berlanjut dengan adu fisik atau adu kadigdayan antara kakak beradik tersebut tak bisa dihindari, dan sosok tokoh kedua wayang itu yang memperagakan adalah anak-anak pemerannya. ”Ternyata, dalam menangkap atau menghayati semua peran yang menjadi tanggung jawab masing-masing itu, anak-anak cukup encer dalam mengapresiasi,”ujarnya.

Buyarnya adu kesaktian antara Shayang Ismoyo dengan Sanghyang Manikmaya, muncullah dua peraga wayang tersebut untuk kembali mengadu kemampuan sebagai pemeran tokoh yang dibawakan.(Foto:SN/aed)

Ditanya berkait hal tersebut, Kepala SD 01 Dukutalit, Ani Kurnia membenarkan, bahwa peserta didiknya yang semula diperkirakan akan menghadapi kesulitan dalam memainkan cerita tersebut, ternyata setelah dipraktikkan dengan bimbingan dan arahan sutradara, ternyata cukup menggembirakan. Sebanyak 37 anak yang terlibat dalam pementasan ketoprak ini, termasuk para penabuh gamelannya mampu menjabarkan arahan pelatih/sutradara.

Satu hal yang benar-benar sangat menggembirakan, karena anak-anak yang akan tampil kali pertama dalam panggung pertunjukan ketoprak, ternyata mendapat suport/dukungan dari semua guru sehingga saat anak-anak berlatih selama ini, semua menunggui. ”Demikian para orang tua murid juga tak ketinggalan, karena merasa putra-putrinya bisa bermain dalam panggung pertunjukan,”imbuhnya.