Dampak Pandemi terhadap Omset Penjual Jajanan Sekolah

0
27

Pandemi Covid-19 yang sudah melanda Indonesia bahkan dunia sejak dua tahun terakhir ini. Hal tersebut banyak sekali mengubah tatanan kehidupan manusia dari berbagai sektor. Selain berpengauh di sektor Pendidikan dan kesehatan. Sektor ekonomi juga terkena dampak dari adanya pandemi. Banyak pelaku bisnis UMKM dan pekerja harian informal merasa resah karena pendapatan mereka menurun. Akibat pendapatan menurun, mereka menjadi kesulitan dalam memenuhi ekonomi keluarga.

Demikian halnya dengan penjual jajanan sekolah. Penjual jajanan sekolah merupakan para pelaku ekonomi yang menjual jajanan ringan maupun makanan dengan membuka lapak di sekitar sekolah seperti: cilok, nasi bungkus, batagor dan masih banyak lagi. Setelah pemerintah mengumumkan sekolah diliburkan dan pembelajaran  dilakukan secara daring, Sehingga tidak ada anak-anak yang berangkat kesekolah. Langkah tersebut merupakan upaya pemerintah dalam memutus penyebaran Covid-19. Hal ini tentunya membuat omset penjual jajanan sekolah menurun, bahkan nyaris kehilangan pendapatan mereka. Anak-anak sekolah ibarat “ruh” bagi mereka yang menopang perekonomian keluarga dari hasil  berjualan jajanan sekolah. Sebab, anak sekolahlah yang paling banyak memenuhi lapak jualan mereka.

Omset dari hasil jualan jajanan sekolah saat sebelum pandemi Covid-19 menyerang, lumayan tinggi dan bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, setelah pandemi datang keadaan justru berbanding terbalik. Omset yang biasanya sampai jutaan kini bahkan untuk bisa mendapatkan omset ratusan ribu saja susah. Para penjual jajanan sekolah ada beberapa yang masih tetap membuka warungnya dengan harapan warga disekitar masih membeli dagangannya, akan tetapi disaat pandemi seperti ini pembeli dari warga sekitarpun juga sedikit, dikarenakan mobilitas terbatas dan perekonomian merekapun juga sedang tidak stabil.

Ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir, dan sampai kapan sekolah dilakukan secara daring. Membuat mereka harus memutar otak untuk tetap bisa menyambung hidup. Ada yang mencoba menjual dagangan melalui online, ada juga yang menjual dagangannya keliling, bahkan ada yang mencoba peruntungan dengan menjadi buruh pekerja serabutan. Semua itu mereka lakukan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan perekonomian keluarga tidak benar-benar lumpuh, karena mereka kehilangan pembeli yang biasanya didominasi oleh anak-anak sekolah.

Penjual jajanan asongan seperti: cilok dan siomay yang biasanya mangkal di sekitar sekolahan juga mengalami penurunan pendapatan, karena mereka yang biasanya berjualan disekolah serta berkeliling, kini hanya bisa berjualan keliling saja.

Di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, ada salah seorang warga yang membuka warung didekat sekolah, warung tersebut menyediakan menu nasi goreng dan lontong bagi anak-anak sekolah. Namun, saat ini warung pun tutup sudah hampir dua tahun. Dikarenakan harus memenuhi kebutuhan keluarga akhirnya pemilik warung harus berusaha mencari peruntungan lain. Pemilik warungpun membuka lapak kecil-kecilan dengan menjual es dan burger agar tetap bisa mendapatkan penghasilan. Tentunya pendapatan dari hasil jualan es dan burger tidak sebesar saat masih membuka warung nasi goreng dan lontong.

Di saat new normal seperti sekarang ini, sekolah perlahan sudah mulai dibuka secara luring. Meskipun dalam pembelajaran luring ini masih bertahap, namun hal tersebut mampu membuat omset para penjual jajanan sekolah bertambah dibandingkan saat sekolah masih full daring. Tentunya omset tersebut masih kalah jauh dibandingkan ketika sekolah masih masuk secara normal. Semua penjual jajanan sekolah berharap agar keadaan bisa kembali normal seperti semula dan sekolah bisa masuk lagi seperti sebelum adanya pandemi Covid-19, agar mereka bisa mendapatkan mata pencaharian lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Oleh : Novita Rokhimatur Ristia

Jurusan: perbankan syariah IPMAFA PATI