Sejarah Munculnya ”Got” di Kompleks Lorong Indah

0
456
Saat Bupati Haryanto bersama jajaran Forkopimda memasang baner/spanduk dimulainya penutupan tempat-tempat pelacuran di Desa/Kecamatan Margorejo.(Foto:SN/dok-wo)

GOT jelas nama lain dari saluran pembuang, dan yang biasanya dibuang adalah air limbah  berwarna hitam pekat serta berbau tak sedap. Karena itu, biasanya yang suka bermain di got tersebut adalah jenis tikus-tikus werok, sehingga bila dikaitkan dengan nama dan fungsi ”got” di kompleks pelacuran Lorong Indah (LI) dan lokasi pelacuran lainnya di Desa/Kecamatan Margorejo maupun di tempat lain di Pati,  tentu tak jauh berbeda.

Apalagi jika tidak sebagai ”saluran pembuang” air limbah kotor dari para pembuang yang tak bisa mengendalikan syahwatnya, meskipun harus dengan  membayar, karena ”got-got” itu disedikan sebagi jasa pembuangan. Dengan bentuk sebagai usaha jasa, sudah barang tentu bagi siapa saja lelaki yang memafaatkannya harus merogoh kocek, untuk membayar penyedia jasa tersebut .

Dengan demikian, ditutupnya ”got” yang ada di lokasi pelacuran di Margorejo, maka sudah pasti saluran pembuang itu buntu sehingga bila yang menyumbatnya tidak benar-benar cukup kuat, maka risiko atau konsekunsinya limbah berbau tak sedap tersebut pasti akan limpas. Pertanyaannya, limbah itu limpasnya ke mana? Jawabnya, tentu ke mana saja karena bisa ke jalan-jalan maupun  ke sawah-sawah, serta tempat-tempat lainnya.

Akan tetapi, kurang lengkap rasanya jika penulis tidak membuka lembaran sejarah, tapi cukup diwakili salah satu keberadaan kompleks pelacuran Lorong Indah saja. Sebab, kalau diruntut mulai dari era Tahun 1970-an, keberadaan warung remang-remang di kawasan perkotaan di Pati hampir di setiap sudutnya pasti ada, sehingga memunculkan para germo yang cukup punya nama, di antaranya adalah ”Wak Ndol.”

Hal tersebut belum termasuk yang di desa-desa, baik yang di kawasan Pati utara, timur dan selatan bisa dipastikan terdapat warung remang-remang. Sehingga bicara hal tersebut Pati juga mempunyai bentuk pelacuran di kalangan ibu-ibu rumah tangga, di mana lagi kala itu jika tidak di Dukuhseti yang juga sempat menyeruak dalam pemberitaan, meskipun kala itu media masih sangat terbatas.

Kembali berkat dengan awal munculnya ”got” atau saluran pembuang di Lorong Indah (LI), adalah bermula pascareformasi pada Mei 1998. Kala itu, lokasi pelacuran di Pati yang terhitung paling besar selain Bajomulyo, Kecamatan Juwana juga ada Gajahkumpul, Kecamatan Batangan, dan satu lagi adalah di Bertek atau banyak menyebutnya sebagai Bletek.

Lokasi wilayah tepatnya, masuk Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo, sehingga kondisi itu juga memancing kelompok yang mengatasnamakan moralitas, untuk memulai gerakannya. Karena itu memafaatkan kondisi masa reformasi, di mana kebebasan yang nyaris tak terkedali pun memancing kelompok tersebut untuk bertindak  tak terkendali pula.

Karena itu, beberapa bulan kemudian, atau sekitar November 1998 pada siang hari dibakarlah salah satu rumah bordil atau warung remang-remang. Akan tetapi, api setelah berkobar dan nyaris membakar warung yang sama di sekitarnya berhasil dipadamkan oleh regu pemadam kebakaran, dan kejadian tersebut membuat para pemilik warung lainnya mengalami ketakutan.

Akhirnya mereka satu per satu para pemilik warung remang-remang di Bletek  ini, menutup usahanya meskipun kala itu juga masih ada yang kucing-kucingan. Ternyata tutupnya lokasi pelacuran yang berada tak jauh dari lingkungan warga, hanya sekadar sementara sambil menyusun rencana untuk usahanya agar bisa tetap berkelanjutan.

Dengan demikian, selang beberapa bulan kemudian atau pada awal atau pertengahan 1999 di tengah-tengah areal persawahan dengan kondisi jalan bila hujan berlumpur dan bila kemarau berdebu dengan jarak lebih dua kilometer dari jalan raya berdiri warung remang-remang di atas tanah yang dijual kavelingan oleh pemiliknya. Dalam waktu relatfif singkat, menyusul lagi beberapa warung lainnya sampai berjumlah menjadi rumah bordil berderet sisi kiri dan kanan, dan juga saling berhadapan.

Padahal, sejak berdiri sampai sekarang para pengurus RT karena jumlah pemilik warung sudah memenuhi untuk membentuk satu RT yang kala itu diketuai oleh Saru (alm), lokasi tersebut memilih untuk tidak memanfaatkan lampu penerangan listrik PLN, melaikan memggunakan disel. Demikian pula, kondisi jalan menuju lokasi itu juga dipilih tetap alami seperti sebelumnya, yaitu tidak ditingkatkan dengan pengaspalan.

Sebab, ketua RT yang sekarang Mastur juga memilih hal sama dalam menyikapi kondisi tersebut memang dengan maksud pengunjung tidak perlu menikmati fasilitas jalan mulus. Akan tetapi  sebagai ”got” maupun saluran pembuang, meskipun LI itu berada di lubang semut tetap banyak diburu bagi lelaki yang ingin membuang limbahnya, sehingga dari semula satu lorong meningkat dua lorong, dan tiga lorong. Setelah 22 tahun sejarah mencatatnya, harus tutup!