Selamatan Barikan Upaya Bathin Tangkal Corona

0
27
Selamatan Barikan oleh sejumlah masyarakat di Dk Sentul, Desa Gembong belum lama ini.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Belum berakhirnya wabah pandemi Covid-19 yang lebih dari setahun ini, memicu masyarakat untuk lebih optimal dalam menghentikan penyebaran virus tersebut. Meski tidak dikehendaki, virus ini saking lamanya membuat masyarakat seakan berdampingan dengan Covid-19.

Oleh sebab itu, upaya masyarakat untuk berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan usaha lahiriyah seperti anjuran oleh medis maupun pemerintah. Seperti memakai masker, cuci tangan, menghindari kerumunan, ikut vaksin sudah banyak dilakukan. Akan tetapi, kasus Covid-19 belum juga sirna, dan masyarakat ada berkeyakinan dengan memilih cara batin.

Di Desa/Kecamatan Gembong, misalnya, cara spiritual dipilih sebagai salah satu ikhtiar penanggulangan Covid-19. Tradisi Barikan yang hampir punah, pun dihidupkan kembali guna memerangi virus ini.

“Ikhtiar lahir kan sudah (dilakukan). Sekarang ikhtiar bathinnya. Kita memohon ampun kepada Allah, dan berdoa mudah-mudahan corona cepat hilang,” ungkap tokoh masyarakat setempat H. Ahmad Suyono, Selasa (6/7/2021).

Barikan tidak hanya dilakukan di Dukuh Sentul, Desa Gembong. Ada beberapa desa di Kecamatan Gembong yang juga melaksanakan acara serupa. Di antaranya, Desa Bermi, Bergad dan Pohgading. Biasanya kegiatan ini dilangsungkan di tepi perempatan atau pertigaan jalan.

Sementara menurut Ariful Hadi, ketua Ranting NU Desa Bermi bahwa selamatan Barikan berisikan doa-doa munajat kepada Sang Pencipta. Doa untuk memohon ampunan yang tentunya juga memohon agar pandemi segera berakhir.

“Barikan ini isinya selamatan, doa bersama dan makan jajanan pasar bersama tapi tetap dengan prokes dan peserta yang dibatasi. Jangan sampai kita berusaha menghentikan Corona tapi dengan cara yang mempermudah penularan Corona,” ungkap Ariful.

Menurutnya, kegiatan Barikan ini merupakan tradisi yang hampir punah di lingkungan masyarakat masa kini. Namun berkat adanya Covid-19, justru tradisi ini hidup kembali sebagai wujud ketidakberdayaan manusia.

“Kita ini kelihatannya saja gagah, tapi diserang makhluk sekecil virus saja tidak berdaya. Sudah saatnya kita mengingat kembali Sang Pencipta, barangkali kita banyak lupa dan dosa,” imbuhnya.

Ariful meyakini bahwa upaya bathin juga harus diperkuat. Namun menurutnya, usaha lahir juga tetap harus dilaksanakan. “Kita yang bukan orang medis ikut saja imbauan dokter dan orang-orang medis. Dan jangan lupa berdoa dengan cara dan kepercayaan masing-masing,” pungkasnya.