Pati Kehilangan Satu Pewara Kuliner Nasi Gandul

0
536
Jenazah salah satu pewara kuliner nasi gandul Gajahmati Pati saat diturunkan dari mobil ambulan dan diusung menuju lubang pemakaman, untuk dimakamkan standar protokol Covid-19.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Salah satu pewara kuliner nasi gandul Gajahmati, Pati, sehingga dikenal di kota-kota besar, Rabu (23/Juni) tadi pagi meninggal. Pemakaman jenazahannya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat, oleh tim Pemakaman Jenazah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati 1.

Sebelum meninggal,  berdasarkan keterangan yang dihimpun ”Samin News”  almarhum beberapa waktu terakhir ini sudah menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Mitra Bangsa Pati. Padahal, sepekan sebelumnya, atau tepatnya juga hari ini adalah hari ke-tujuh meninggalnya salah seorang putrinya juga karena terpapar Covid-19.

Sedangkan dalam mewarakan kuliner khas Pati, nasi gandul yang bersangkutan dilakukan bersama salah seorang pewara lainnya, (almarhumah) Ny Mutiman, selalu menghiasi ruang siaran sejumlah radio. ”Karena itu nama warungnya juga sangat ngepop, dan mudah diingat dan dilihat mengingat tempatnya di pinggir jalan raya,”ujar salah seorang di antara tim pemakaman, Purnama.

Saat peti jenazah sudah di atas lubang makam, maka adzan untuk jenazah pun dikumandangkan.(Foto:SN/aed)

Adapun warung nasi gandul milik almarhum, lanjut dia adalah Warung Nasi Gandul Romantis, di pinggir Jl Panunggalan juga masuk Desa Gajahmati. Sedangkan warung milik pewara lainnya, almarhum Ny Mutiman, adalah Warung Nasi Gandul Kasmaran, di pinggir jalan Kiai Saleh, masuk Kampung Saliyan, Kelurahan Pati Lor.

Sedangkan sebagai cikal bakal munculnya kuliner yang akhirnya menjadi khas Pati, memang berasal dari Desa Gajahmati pula. Pelopornya, bagi orang Pati namanya disebut sebagai Melet, jika waktu itu untuk menjajakannya dengan cara dipikul tiap malam menyusuri jalan, akhirnya membuka jualannya di halaman depan/pelataran rumahnya.

Selesai peti jenazah dimasukkan ke lubang makam untuk dilakukan pengurukan, dan penempata nizan di atas pusara makam.(Foto:SN/aed)

Dalam waktu selang tak beberapa lama, akhirnya muncul penjual nasi gandul lainnya, yaitu Bakri yang juga warga Gajahmati. Setelah itu, muncul penyaji kuliner khas Pati generasi berikutnya sesudah Melet dan Bakri, di antaranya adalah almarhum bersama istrinya dan juga Mutiman almarhumah istrinya, dan saat itulah kuliner khas Pati ini mulai menyebar ke mana-mana.

Sebab, kuliner  nasi gandul Pati tidak hanya menyebar dalam Kota Pati semata, tapi juga ke kecamatan lainnya termasuk di kabupaten, dan beberap kota besar. Hal itu dibenarkan, salah seorang anak muda warga setempat yang semula juga aktif membuka usaha kuliner, selain dengan masakan nasi gandul juga sate ayam.

”Tapi sekarang kami sudah tidak aktif dan banting stir, usaha lain,”ungkap Agung.