Nestapa Corona dan Solidartias Warga

0
4

DUA tahun sudah pandemi virus corona menderu Indonesia. Sejak terdeteksi awal Maret tahun lalu, jutaan orang telah terinfeksi virus yang konon berasal dari Wuhan, China tersebut. Beberapa berhasil sembuh dan bertahan, dan beberapa lainnya terpaksa dikebumikan.

Di Indonesia, libur Lebaran tahun ini begitu terasa menyisakan ketakutan dan duka yang mendalam. Virus corona terus menjalar dan menular begitu liar, dan pada akhirnya pandemi pun kian tak terkendali.

Per Januari hingga Juni saja, menurut Satgas Covid-19 kenaikan kasus di Indoensia telah mencapai angka lebih dari 300 persen.

Semua tentu sepakat bahwa kini Indonesia tengah mengalami gelombang kedua (Second Wave) Covid-19. Hal ini tentu tergambar jelas bagaimana grafik angka kenaikan kasus Covid-19 yang kian hari justru terus mengalami kenaikan.

Menurut catatan Satgas Covid-19, pada puncak yang pertama di Januari 2021, jumlah kasus mingguan Covid-19 mencapai 89.902 kasus. Pekan ini, angkanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 125.396 kasus.

Selain itu, pada pekan lalu, Indonesia mencatatkan angka kasus positif harian yang sangat tinggi, yakni 21.345 kasus dalam sehari. Ini merupakan rekor tertinggi penambahan kasus baru Covid-19 dalam sehari sejak pandemi menyerang negeri ini.

Meskipun begitu, pandemi tak melulu mengabarkan tentang duka dan nestapa. Sebaliknya, situasi pandemi ini justru memupuk menggugah masyarakat tentang apa itu berbagi. Banyak dari mereka menggalang dana bantuan dan berbagai kegiatan sosial.

Meski pemerintah pusat dan daerah sudah berusaha membantu, namun kita melihat banyak warga bahu-membahu membantu sesama. Mereka bergerak cepat mengulurkan tangan dan memberikan bantuan, baik dalam bentuk uang maupun barang. Juga berbagi informasi dan alat kesehatan.

Berbagai aksi sosial semacam ini memang layaknya mata air di tengah gurun pasir. Alih-alih menebar ketakutan, di tengah pandemi mereka justru memilih untuk berbagi dan mengabarkan berjuta harapan. Tak hanya mengkritik, nyatanya mereka lebih memilih untuk turun tangan.

Beragam aktivitas sosial yang dilakukan berbagai kalangan untuk membantu dan menolong sesama ini bisa menjadi modal. Francis Fukuyama menyebutnya modal sosial. Solidaritas sosial yang menjadi modal sosial yang dimiliki bangsa ini bisa menjadi amunisi untuk menghadapi pandemi.