Larangan Mudik di Tengah Isu Covid yang Tak Lagi Populis

0
18

TERHITUNG mulai hari ini, pemerintah resmi melarang para perantau untuk mudik lebaran Idul Fitri 1442 H. Kebijakan ini pun dinilai begitu banyak pihak sebagai sebuah aturan yang tak logis dan terkesan begitu tragis di tengah isu virus Corona yang sudah tak begitu populis.

Alasan dari pelarangan ini karena para pemudik dianggap akan membawa klaster baru penyebaran virus Corona yang sudah begitu gaduh sejak awal kemunculannya di Wuhan. Kala itu, tiap hari kita selalu dihinggapi dengan ketakutan berlebih dengan virus yang mulai muncul di Indonesia awal Maret tahun lalu.

Berjalan waktu ada hal yang paling mengenaskan dari isu Corona itu yakni perekonomian warga yang porak poranda, diluluhlantakkan oleh si Corona jahanam tersebut, kita dipaksa ‘stay at home‘ alias di rumah saja.

Subsidi pemerintah memang ada, namun selain menjadi konflik baru ditengah masyarakat ya namanya bantuan mana cukup, akhirnya warga mulai nekat tetap beraktifitas di luar rumah demi memenuhi kebutuhan isi perut.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah pun gaduh, maka keluarlah kebijakan ‘New Normal‘ atau tatanan kebiasaan baru, pada tatanan kehidupan baru inilah ‘Stay at Home‘ dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Roda perekonomian jalan prokes tetap di tegakkan.

Namun akhir-akhir ini sepertinya kita mulai lengah. Bahkan mungkin lebih dari itu, barangkali kita sudah bosan bahkan kita mulai sadar dengan wabah ini yang sebenarnya seperti apa.

Berangsur mulai langka kita lihat orang bermasker, tak ada lagi kita temui jaga jarak, terbukti kerumunan dimana-mana di tempat wisata, juga di pusat perbelanjaan. Isu corona sudah dianggap hal biasa saja dan tak lagi sesuatu yang menarik.

Bahkan kasus pasien meninggal yang katanya gara-gara Covid kita mulai berani berspekulasi bahwa diduga meninggalnya seseorang selain sudah ajal lebih lagi ada penyakit bawaan yang lebih dahulu ada, dan menumpang-lah corona disana.

Jika keadaan sudah seperti ini, masih pentingkah kebijakan pelarangan mudik di hari raya? Bukannya mau menyalahkan, namun kebijakan parsial nan seremonial seperti ini tentu tak bisa serta merta membendung virus corona yang sudah ada. Lagi pula apa jaminan Corona akan mereda jika kita tak pulang di hari raya?