Wafat Ibu Nyai Sundari (7)

0
192
Pengembangan Pondok Pesantren (Ponpes) Syamsul Hidayah.

TAHUN 1913 Mbah Syamsul Hadi dikaruniai putra kedua diberi nama Tholhah, dan tiga tahun kemudian (1916) lahir anak ketiga seorang perempuan diberi nama Siti Maryati yang di belakang hari menjadi istri Kiai Thohir dari Plosorejo Pucakwangi. Satu tahun setelah melahirkan anak ketiga, Mbah Siti Sundari meninggal dunia pada hari Rabu bulan Maulud Tahun 1917.

Di tahun itu juga Mbah Syamsul Hadi menikah kali kedua, dan dikaruniai dua anak lelaki dan perempuan, tapi keduanya meninggal. Akhirnya istri kedua ini pun  diceraikan, kemudian menikah lagi dengan Sarijah yang dikaruniai putra  putri bernama Masruhah, dan menikah dengan Mu’inah dikaruniai seorang putri Musiyah.

Tahun 1919 beliau menikah lagi dengan putri Mbah Abu Hasan dari Desa Sumberarum bernama Siti Kasmirah, Ibu Siti Kasmirah inilah yang kemudian diajak Mbah Syamsul Hadi untuk mengembangkan agama Islam di Sumberejo dan sekitarnya. Ibu Siti Kasmirah juga yang diajak mengasuh putra-putri ibu terdahulu hingga sampai dewasa.

Pernikahan Mbah Syamsul Hadi dengan Siti Kasmirah dikarunia tujuh orang anak, empat laki-laki meninggal satu orang, dan tiga perempuan. Mereka adalah Siti Solihati, Mas’ud, Masruri, Mustain (meninggal saat masih muda), Kalwatiatun, Maimunah dan Munhaji.

Satu tahun setelah pernikahan beliau dengan Ibu Siti Kasmirah, yaitu di Tahun 1920 Mbah Syamsul Hadi mempunyai hajat mengkhitankan putra pertamanya Abdul Wahab. Selain itu juga  menikahkan putrinya Siti  Maryati dengan Ahmad Thohir dari Plosorejo Pucakwangi.

Merasa perlu menambah bekal pengetahuan, Tahun 1921 Abdul Wahab bersama Ahmad Thohir dipondokkan ke Limbangan Sulang Kabupaten Rembang, asuhan Kiai Ronggo Musthofa. Hal itu berlangsung kurang lebih dua tahun, dan selesai itu Abdul Wahab pindah ke Pondok Kasingan Rembang. (bersambung)