Mbah Syamsul Hadi Menghadapi Rong-rongan Penjahat (4)

0
158
Bedug dan kentongan di Masjid Al-Mujahidin, peninggalan Mbah Syamsul Hadi.

Pengantar:  Sosok Kiai ”ndesa” yang satu ini, adalah Al-Mughfurlah KH Syamsul Hadi, asal Dukuh Kolutan, Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken. Sebab, yang bersangkutan adalah seorang pejuang dan sekaligus guru sufi pada masanya yang sudah pasti tidak akan ditemukan dalam buku sejarah, maka ”Samin News” menuliskan sosok kiai ini dalam beberapa beberapa seri.

SAMIN-NEWS.com – Sebelum Mbah Syamsul Hadi meninggalkan Sobo Sukorukun, KH Irsyad memberikan dawuh kepadanya untuk segera menikah. Sedangkan perempuan yang menjadi calon pasangannya tak lain adalah Tasminah binti Ahmad Weduni Arumanis, yakni adik KH Irsyad, dan kemudian perempuan itu berganti nama Siti Sundari.

Pernikahan tersebut berlangsung tanggal 1 September 1907, dan tercatat dalam buku nikah KUA Kawedanan Jakenan Nomor : 754 dengan Na’ib H Wirangi dan Modin Weduni, Munawar. Adapun wali pernikahan waktu itu adalah Ahmad bin Abu Ahmad.

Setelah menikah Mbah Syamsul Hadi untuk beberapa saat melanjutkan ngaji dengan KH Irsyad hingga putra pertamanya lahir laki-laki di Weduni Arumanis, tanggal 10 Oktober 1910 diberi nama Abdul Wahab. Berikutnya adalah perpindahan beliau dari Weduni Arumanis  ke Kolutan, Sumberejo.

Masyarakat Weduni sangat gembira dan berbangga atas kehadiran Mbah Syamsul Hadi, karena ibarat mendapat sinar terang di kegelapan atas keberadaannya di daerah mereka. Kegembiraan tersebut tercermin pada keinginan masyarakat untuk segera berguru kepada beliau.

Sebab, mereka sebelumnya tidak pernah mengira bahwa di daerahnya akan ada seorang guru yang alim dan sangat mereka dambakan. Sehingga kehadiran Mbah Syamsul Hadi dari pondok segera mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat.

Selain masyarakat merasa senang atas kehadiran beliau, ada pula sebagian yang membencinya. Orang-orang ini adalah para penjahat yang senantiasa berusaha agar Mbah Syamsul Hadi enyah dari Weduni. Agar keinginan mereka bisa segera terpenuhi, para penjahat itu mengundang gembong-gembong dari luar daerah untuk membantu mengusir beliau.

Akan tetapi atas kesabaran dan kearifan Mbah Syamsul, akhirnya selamat dari ancaman jahat mereka. Bahkan akhirnya para gembong penjahat itu terbuka hatinya mau tunduk dan beribadah kepada Allah SWT. Mereka ini adalah Rana Sunggel dari Njodak Pucakwangi dan Rabiya dari Terbanggi Rembang. (bersambung)