Kelompok Difabel Pati Mandiri Tetap Berkreativitas di Tengah Keterbatasan Fisik

0
40
Kreatifitas para anggota Kelompok Difabel Pati Mandiri

SAMIN-NEWS.com, PATI – Disabilitas bukan halangan bagi Kelompok Difabel Pati Mandiri untuk berkreatifitas dalam membatik dan menjahit. Pasalnya, kemandirian dan kreatifitas mereka mampu menghasilkan batik dan konveksi yang tak kalah berkualitas dan mampu memberikan kesejahteraan bagi para anggotanya.

Kelompok Difabel Pati Mandiri merupakan salah satu organisasi difabel yang berada di bawah naungan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Pati.

Menurut Ketua PPDI Kabupaten Pati Suratno, sejak pertama dibentuk, Kelompok Difabel Pati Mandiri aktif mengikuti pelatihan membatik dan menjahit.

“Sejak dibentuk sudah aktif ikut pelatihan-pelatihan yang juga dinaungi Yayasan Muhammad Hatta Center (MHC) yang memantau sampai sekarang. Ini pelatihannya ada sablon, membatik dan menjahit,” ungkap Suratno seusai Kegiatan Pelatihan Batik dan Menjahit Kaos Bagi Tuna Rungu, Minggu (28/3/2021).

Menurutnya, garapan produksi sablon belum dikerjakan secara maksimal. Akan tetapi produksi batik sudah mamp menembus pasar luar Jawa, diekspor sampai luar Jawa.

Selain itu lanjutnya, meski sudah melebarkan sayap produksi tapi pelatihan-pelatihan tersebut masih menjadi agenda rutin mereka. Tak ayal, karena keseriusan dan ketekunan para anggota menjadikan batik dan jahitan yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran.

“Ini rencana bersama MHC mau diajak pameran di Jeddah (Arab Saudi). Baru diproses dan disiapkan kalau semua klop sudah clear tinggal berangkat kesana,” tambah Ratno

Kreatifitas para anggota Kelompok Difabel Pati Mandiri tidak muncul begitu saja. Meski kini pemerintah sudah mengeluarkan UU disabilitas salah satunya hak di dunia kerja, tapi kenyataannya tidak semudah itu.

“Kalo disini itu umur dan ijazah salah satu kendalanya. Maka dari itu, kami putar otak dan juga bersama relawan mencoba usaha seperti ini Alhamdulillah jalan,” ujarnya.

Menurut Fandy Putratama, salah satu perwakilan MHC yang berkontribusi sebagai Artworker dan Impowerment dalam pelatihan dan produksi, turut mengungkapkan rasa bangganya. Mereka, kata Fandy baru diberi pelatihan hanya berselang tiga bulan sudah mampu menyerap materi pelatihan.

“Setelah memberi pelatihan mikirnya belum apa-apa kok sudah bisa dalam jangka waktu tiga bulan. Padahal latihan membatik itu harusnya satu tahun setidaknya sudah siap jual. Temen-temen ini progresnya cepat, penjualan juga meningkat padahal baru tiga bulan pelatihan,” kata Fandy

Sebagai informasi, batik yang diproduksi oleh kelompok Difabel Pati Mandiri adalah batik ciprat dengan motif modern karena ingin membidik pangsa pasar milenial. Selain itu, pesanan jahitan dan kerajinan tangan seperti tas dan pouch juga kerap mereka terima.