Greget Petani Menyiapkan Tanam Padi Musim Tanam Kedua

0
25
Greget dan semangat para petani di Pati, termasuk yang beberapa waktu lalu areal tanaman padinya tergenang banjir, kini mempersiapkan untuk melaksanakan tanam padi musim tanam (MT) kedua.(Foto:SN/aed)
Greget dan semangat para petani di Pati, termasuk yang beberapa waktu lalu areal tanaman padinya tergenang banjir, kini mempersiapkan untuk melaksanakan tanam padi musim tanam (MT) kedua.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Berkeluh kesah menyesali terjadinya bencana banjir yang menggenangi dan merendam padi di areal persawahan mereka, hal itu bukanlah sifat para petani di Pati. Utamanya adalah para petani di beberapa desa di wilayah 9 kecamatan, baik di Kecamatan Juwana, Jekenan, Gabus, Kayen, Sukolilo, Margorejo, Pati, Tayu, dan Kecamatan Dukuhseti.

Terbukti, saat ini dari bekas lokasi sawah yang terkenang dan mulai surut airnya, kini sudah kembali diolah dengan cara dibajak  ”handtractor’’. Selebihnya dari itu, ada juga di antara mereka yang tengah membuat persemaian benih, sehingga jika petani yang belum siap dengan benih bisa mendapat alokasi bantuan tersebut, rata-rata tentu sudah siap dengan pembuatan persemaian.

Mengingat mereka juga harus mencari modal untuk membeli bibit, ujar beberapa petani secara terpisah di Kecamatan Sukolilo, maka untuk persiapan musim tanam kedua ini untuk sementara menunggu. ”Kalau kami sudah tinggal menunggu lahan, sambil mencari benih padi, dan yang penting juga mencari serta menyiapkan pupuk urea,” tandasnya.

Puncak panen raya padi berlangsung di awal Maret 2021 dengan cuaca yang tidak terlalu ekstrem.(Foto:SN/aed)
Puncak panen raya padi berlangsung di awal Maret 2021 dengan cuaca yang tidak terlalu ekstrem.(Foto:SN/aed)

Sementara itu, dari pantauan ”Samin News” di tengah-tengah situasi tersebut, di sisi lain justru saat ini tengah berlangsung panen raya padi petani. Bahkan di wilayah Kecamatan Jakenan yang sebagian wilayah desanya areal tanaman padi terendam banjir, tapi sebagian lainnya juga masih berlangsung panenan padi.

Di antaraya adalah di sebagian Desa Sidoarum, Kalimulyo, dan Tambahmulyo, serta beberapa desa lainnya. Hanya sayangnya, harga jual gabah di tingkat petani untuk gabah kering panen (GKP) per kilogram belum juga beranjak dari harga beberapa waktu sebelumnya, yaitu antara Rp 3.500 sampai 3.600 per kilogaram, sehingga hal itu masih jauh dari harapan petami.

Harapan mereka, tentu harga jual gabah petani untuk GKP bisa lebih meningkat di atas harga sebelumnya. ”Pertimbangannya, untuk cuaca saat ini juga tidak terlalu ekstrem sehingga hujan pada siang hari sudah jarang terjadi, maka pedagang yang mempunyai lantai jemur tentu tidak banyak menghadapi gangguan,” ujar Yono, salah seorang petani lainnya, di Desa Sidoarum, Kecamatan Jakenan.