“Psywar” Demokrat Versus PDIP

0
26

SEOLAH tak pernah lelah, perang psikologis atau yang biasa disebut “psywar” terus saja bergulir di level elit panggung politik Indonesia. Setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diolok-olok habis-habisan oleh berbagai pihak terkait dana hibah sebesar 9 miliar yang ia terima untuk pembangunan musem SBY-Ani, kini dari pihak Partai Demokrat kembali melempar peluru panas melalui pernyataan salah satu kadernya, Rachland Nashidik.

Seolah jiwa corsanya terusik, melalui akun Twitternya Rachland Nashidik menuliskan usulan untuk merubah Gedung Kementerian Sosial (Kemensos) untuk dijadikan museum korupsi bansos.

“Nanti, rejim berganti, bagaimana bila gedung Kemensos kita ubah fungsinya jadi museum? Untuk mengingat korupsi Bansos oleh kader PDIP di masa Presiden Jokowi. Bisa ditambah apik dengan menyertakan rongsok bus bekas Transjakarta yang dibeli oleh Gubernur Jokowi. Setuju?,” tulis Rachlan dengan nada satire melalui akun pribadinya.

Cuitan Rachlan tersebut sontak menjadi kolom perang dingin antara dua pendukung partai besar tersebut. Bahkan berkat cuitan ini, keyword “museum” berhasil menduduki trending topic Twitter hari ini, Rabu (17/2/2021).

Pernyataan Rachlan Nashidik tersebut tentu bukanlah sebuah bentuk usulan maupun kritik terhadap pemerintah, sebab pernyataan tersebut terasa sangat kental sekali dengan sentimen partai saja. Ia seolah hanya ingin mengalihkan isu yang sedang bergulir saja, bahkan hal ini terlihat dari pemilihan diksi “museum” yang sebelumnya digunakan oleh berbagai pihak untuk menghujani kritikan kepada SBY dan Partai Demokrat.

Sebab jika kita melihat hal tersebut pada perspektif kepartaian, rekam jejak keduanya tentu sama saja dan sama gilanya. Andaikan saja Gedung Kemensos dialihfungsikan menjadi museum korupsi bansos kader PDIP, tentu proyek Hambalang pun bisa dialihfungsikan menjadi candi atau monumen bancaannya kader Demokrat.

Sebagai masyarakat, tentu kita perlu lebih dewasa dan menjunjung tinggi rasa “Bodo Amat” dalam menghadapi berbagai isu seperti ini. Posisikan saja diri kita sebagai penonton, anggap saja berbagai konflik di level elit tersebut hanyalah hiburan bodoh yang bisa kita saksikan setiap hari.