Alasan Tidak Perlu Rekomendasi Memanfaatkan Stasiun Juwana (14)

0
83
Beginilah kondisi Stasiun Juwana, di Desa Doropayung, Kecamatan Juwana, Pati yang sudah puluhan tahun tak terpakai.

Redaksi : Untuk melengkapi kebenaran tentang ramalan Sri Aji Jayabaya bahwa Pulau Jawa ini ”kalungan” (berkalung)” besi sebenarnya sudah lama lewat, tapi yang masih bertahan hanya di Pulau Jawa bagian selatan dan tengah. Sedangkan ”kalung besi” di Pulau Jawa bagian utara yang tersisa hanya di Semarang, karena yang ke timur mulai dari Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang hingga Tuban-Jatirogo-Bojonegoro kalung besi itu sudah punah. Sehingga jika PT Kereta Api Indonesia (KAI) ingin membuat kalung besi kembali utuk jalur tersebut, alangkah baiknya kita tunggu saja.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Pemerintah Kabupaten Pati jika rancangan trasportasi perkeretaapian ini benar-benar diwujudkan di kawasan pantura timur Jawa Tengah, maka pemkab yang bersangkutan harus memberikan rekomendasi kepada pihak PT KAI. Yakni, tidak perlu lagi memanfaatkan Stasiun Juwana yang selama bertahun-tahun ini tidak lagi dipergunakan, sehingga hal tersebut pun berdampak pada kondisi stasiun tersebut.

Sebab, puluhan warga sudah terlanjur lama memanfaatkan lahan milik perusahaan yang bersangkutan, sehingga jika dimanfaatkan lagi untuk menghidupkan stasiun dan lingkungannya, pasti mengundang permasalahan yang pelik dan berkepanjangan. Dengan demikian, lebih baik membangun Stasiun Juwana baru di lokasi lahan yang tidak mengundang banyak permasalahan, dan menyambung dengan jaringan rel kereta api dari Stasiun Pati di lokasi baru pula.

Ketimbang memaksakan untuk memanfaatkan stasiun Juwana lama yang akan banyak memunculkan permasalahan, lebih baik membangun stasiun baru sekaligus membangun jembatan untuk rel kereta api. Sebab, selesai lepas dari Stasiun Pati memasuki Stasiun Juwana, rel kereta api yang menuju timur maupun sebaliknya tetap harus menyeberang alur Kali Juwana.

Bekas rel kereta api setelah lepas dari Stasiun Juwana melintas di perlintasan Jl Sudirman adalah menyeberang alur Kali Juwana dengan real dan jembatan melintang di atasnya.

Untuk keperluan itu, maka fasilitas rel di atas jembatan yang panjang seluruhnya selebar alur kali tersebut, yaitu mencapai 100 meter merupakan tuntutan harus dibangun baru. Sebab, yang  lama dan semula bersebelahan jembatan untuk akses ruas jalan Juwana-Rembang maupun sebaliknya juga sudah dibongkar

Dengan demikian, saat ini di Juwana tinggal dua buah jembatan untuk melintas kendaraan yang datang dari barat (Jakarta) menuju ke timur Surabaya maupun sebaliknya yang dibangun secara terpisah. Maksudnya untuk melintas arus lalulintas dari barat di sisi utara, dan yang dari timur di sisi selatan yang dahulu akses Jl Sudirman atau sebelah barat jembatan tersebut merupakan perlintasan kereta api yang hendak ke luar maupun masuk Stasiun Juwana.

Akan tetapi jika kondisi stasiun lama sudah seperti itu, maka langkah yang terbaik dan harus direkomendasikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati, adalah lebih baik membuat Stasiun Juwana Baru ke timur. Melalui upaya tersebut, maka sambungan rel kereta api menuju Rembang tentu harus didahului rel dari stasiun baru.

Pertanyaanya, berapa besar alokasi anggaran yang harus disediakan. Akan tetapi yang jelas lebih murah membangun stasiun baru ketimbang memanfaatkan Stasiun Juwana lama yang pasti sarat dengan berbagai permasalahan sosial, Sedangkan harga permasaahan sosial itu tentu akan lebih mahal, karena yang harus dibeli adalah kalimat ”pokoknya” dari orang-orang yang selama ini menguasai asetnya PT KAI.