Petani di Lokasi Banjir Mulai Panen Padi untuk Dibawa Pulang

0
56
Mesin pemanen padi yang disewa petani Desa Tanjang, Kecamatan Gabus untuk memanen tanaman padinya yang tergenang.

SAMIN-NEWS.com, PATI –  Para petani di beberapa desa lokasi banjir saat ini mulai melakukan panenan padi miliknya hasil tanam pada musim tanam (MT) I karena mulai juga tergenang air, sehingga harus segera diselamatkan. Lain halnya untuk tanaman padi yang sudah terendam air, sehingga oleh para petani pemiliknya terpaksa hanya dibiarkan.

Akan tetapi yang menjadi masalah saat ini, ketika para petani hendak memanen padinya yang masih dalam kondisi tergenang, ternyata belum ada pedagang pengumpul/penebas yang mendatangi areal persawahan petani untuk membeli padi sistem tebasan. Hal tersebut wajar, karena mereka mengira semua padi terendam banjir.

Padahal, papar para petani baik di Desa Tanjang maupun Kosekan, Kecamatan Gabus, masih banyak juga tanaman padi MT I yang selamat dari rendaman air, karena kondisinya baru taraf tergenang. ”Yakni, batang jeraminya memang tergenang air tapi bulir padinya masih aman sehingga masih bisa dipanen dan menunggu genangan air tersebut surut,”ujar salah seorang di antara mereka, Kasiran (51), warga Desa Kosekan.

Mesin pemanen padi yang sudah memanen padi petani karena tergenang air di persawahan.

Kendati dia warga Kosekan, lanjutnya, tapi selama ini mempunyai areal persawahan di Desa Tanjang dari sewa yang dilakukan, dan juga tanaman padinya siap panen. Karena itu, dia pun menunggu giliran mesin panenan yang juga sudah disewa oleh petani lainnya, karena sampai saat ini belum ada pedagang pengumpul/penebas yang turun ke lokasi untuk melakukan pembelian.

Dengan demikian, jika petani memanen padinya itu untuk dijual tebasan, melainkan dibawa pulang karena yang penting sebelum terendam air jika masih memungkinkan bertambah kalau sudah di rumah itu lebih aman. Harapannya tentu, agar hujan tidak turun terus menerus melainkan ada pula panas matahari sehingga gabah kering panen tersebut bisa dijemur.

Petani yang membawa pulang ke rumah hasil panenan padinya karena belum ada pedagang pengumpul yang melakukan pembelian.

Menjawab pertanyaan, Kasiran menegaskan, bahwa belum adanya pedagang melakukan pembelian sistem tebasan karena mengira, semua tanaman padi petani terendam banjir, meskipun ada di antaranya yang hanya tergenang. ”Lagipula sampai saat ini juga belum jelas berapa harga gabah kering panen, tapi kami sempat bertanya kepada petani Karangasem, desa Pantirejo yang sempat menjual hasil panen padinya yang terendam banjir, harga gabahnya  per kilogram hanya Rp 3.700,”imbuhnya.