Menghindari Ganti Rugi Lahan Warga; Lebih Baik Jalur Kereta Api Disejajarkan dengan Jalan Layang (12)

0
103
Salah satu ruas jalan nasional di jalur pantura timur Jawa Tengah yang konon akan digantikan dengan jalan tol Semarang-Surabaya.

Redaksi : Untuk melengkapi kebenaran tentang ramalan Sri Aji Jayabaya bahwa Pulau Jawa ini ”kalungan” (berkalung)” besi sebenarnya sudah lama lewat, tapi yang masih bertahan hanya di Pulau Jawa bagian selatan dan tengah. Sedangkan ”kalung besi” di Pulau Jawa bagian utara yang tersisa hanya di Semarang, karena yang ke timur mulai dari Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang hingga Tuban-Jatirogo-Bojonegoro kalung besi itu sudah punah. Sehingga jika PT Kereta Api Indonesia (KAI) ingin membuat kalung besi kembali utuk jalur tersebut, alangkah baiknya kita tunggu saja.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dibangunnya tol Semarang-Demak yang panjangnya 25 kilometer akhirnya muncul (barangkali) dalam angan-angan siapa saja yang berharap agar hal sama juga dilanjutkankan tol di kawasan jalur pantura Jawa Tengah. Yakni, pembangunan tol lanjutan Semarang-Kudus, Semarang-Pati, Semarang-Rembang hingga Semarang-Surabaya.

Akan tetapi yang kemudian muncul adalah pertanyaaan, berapa alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk keperluan tersebut, mulai dari pengadaan lahan untuk lokasi ruas tol tersebut, serta biaya pembangunan konstruksinya. Kendati tol itu pembangunannya diserahkan, termasuk pembiayaannya kepada pihak ketiga, tapi kalau sudah menyangkut biaya triliunan rupiah tentu hanya bisa membuat orang geleng kepala.

Sedangkan yang menjadi pertanyaan, berikutnya adalah, pembangunan ruas tol tersebut akan memanfaatkan lahan berapa luas. Sebab, yang mempunyai lahan jika itu areal pertanian tentu milik para petani, sehingga harus ada ganti untung yang dibayarkan kepada mereka, ditambah mahalnya harga permasalahan sosial yang timbul jika sudah menyangkut pembebasan lahan milik warga.

Dengan demikian, jika masih ada alternatif dan manfaatnya juga maksimal tapi tidak berisiko memunculkan permasalahan sosial, mengapa tidak menjadi pilihan untuk dilakukan kajian lebih lanjut. Apalagi jika saat ini juga sudah muncul wacana dan rencana, untuk menghidupkan kembali jalur perkeretaapian Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang -Tuban-Jatirogo-Bojonegoro.

Jika hal tersebut menjadi bagian dari rencana yang bisa diwujudkan, mengapa tidak dilakukan studi alternatif, bukan berkait dengan rencana pembangunan ruas tol di jalur pantura timur Jawa Tengah hingga Surabaya, melainkan studi tentang pembangunan jalan layang (fly-over) Semarang-Surabaya sehingga tidak perlu terlalu banyak membebaskan lahan milik warga.

Dengan jalan layang, maka akses ruas jalan nasional yang sekarang merupakan akses jalan satu-satunya bisa dimaksimalkan, dan tinggal membangun akses jalan bagian atas. Dengan demikian, arus lalu lintas yang dari barat (Jakarta) lewat ruas jalan yang di bawah, dan yang dari timur (Surabaya) melintas di ruas jalan yang di atas.

Tersedianya akses ruas jalan raya, maka pihak PT KAI bisa memanfaatkan kesempatan untuk membangun fasilitas jaringan rel kereta api di pantura timur Jawa bersebelahan dengan bagian atas ruas jalan layang. ”Jika konstruksi jalan layang sejajar dengan rel kereta api, maka kemungkinan terjadinya permasalahan sosial soal ganti rugi lahan bisa dihindari dan terjadinya kecelakaan kereta api, dipastikan bisa ditekan dalam angka nol.

Ini benar-benar sebuah tantangan besar ke depan.!!