Benarkah KBBI Siratkan Patriarki dan Misogonis dalam Bahasa Indonesia ?

0
24

“Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu Walau kadang rumit dan membingungkan”

Begitulah kiranya bunyi penggalan sajak Joko Pinurbo yang berjudul “Kamus Kecil” yang kembali muncul dan terngiang-ngiang tatkala muncul kegaduhan mengenai makna lema perempuan di berbagai lini masa media sosial.

Jika kita pikir-pikir, bahasa Indonesia memang kerap terasa lucu dan membingungkan di beberapa titik. Seperti dalam lema-lema terkait gender,  bahasa Indonesia justru kerap kali muncul dengan kesan patriarki dan misogoni yang begitu kental.

Kembali ke makna kata perempuan, kegaduhan di lini masa media sosial tersebut berawal dari postingan Vokalis Barasuara, Asteriska dalam akun Instagram pribadinya.

Asteriska mempermasalahkan pendefinisian negatif dari kata perempuan di KBBI. “Hehe coba deh dicek isi kamus, penjelasan kata perempuan di situ negatif sekali dan tidak objektif. Seperti kata mba @annaforeko, Ga heran kenapa perempuan sering dijadikan objek untuk hal yang terkait seksual dan dilecehkan,” tulisnya.

Keriuhan ini pun sebenarnya telah ditanggapi oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Meskipun begitu, jika kita mengacu pada pada Hipotesis Sapir dan Worf  bahwa bahasa memiliki kelindan yang kuat dengan budaya, bisa jadi kita sampai pada kesimpulan bahwa cara pandang kita terhadap perempuan memang masih menggunakan perspektif patriarki, bahkan misoginis.

Selain itu, hal ini juga bisa kita lihat dalam sebuah temuan kecil tentang adanya adjektiva seksis  dalam pemberian contoh terhadap beberapa kata yang diidentikkan dengan gender tertentu.

Seperti pada lema “nyinyir”. KBBI mengartikannya sebagai “mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet” dengan contoh pemakaian  “nenekku kadang-kadang–, bosan aku mendengarkannya”.

Badan bahasa pun sempat menyatakan bahwa KBBI merupakan kamus hidup (living dictionary) berisi rekaman sejarah fakta kebahasaan yang pernah hidup di masyarakat  sehingga tidak bisa dengan mudah diubah.

Lantas apa dan di mana peran kamus selama ini? Bukankah ia juga diharapkan menjadi penyumbang dalam konsep-konsep yang berkembang di masyarakat? Seharusnya tak ada lagi pekamus yang berkilah dengan argumen yang canggih, sebab dalam hal ini pekamus memiliki kesempatan yang baik untuk berkontribusi memberi warna positif demi mengubah stigma yang ada di masyarakat.