Rekonstruksi Budaya; Tampilkan Ketoprak Anak SD Ronggo 03

0
64
Pergelaran ketoprak anak dari SD Ronggo 03 Kecamatan Jaken, Pati secara virtual semalam , di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dalam upaya merekonstruksi budaya pihak Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, mencoba memaksimalkan berubahnya tampilan melalui khasanah beberapa kesenian tradisional. Salah satu di antaranya, yaitu seni panggung ketoprak anak-anak dengan harapan ke depan seni ketoprak bisa kembali sesuai aslinya.

Dengan kata lain, ketoprak yang setiap saat bisa dimainkan oleh anak-anak sepanjang pihak yang berkompeten Bidang Kebudayaan konsekuen dan konsisten, apa maksud dan tujuan sebenarnya merekonstruksi budaya melalui kesenian tradisional tersebut. Pendek, kata jika ketoprak anak-anak seperti yang dikemas oleh SD 03 Ronggo Kecamatan Jaken, dijadikan model maka ketoprak anak-anak lainnya harus dikemas serupa.

Utamanya, papar pelatih kesenian tradisional yang bersangkutan, Wawan Laras Budoyo, adalah mengembalikan gending-gending Jawa dalam setiap pementasan. ”Yakni, pada adegan tamansari dengan para peraga putri tetap memakai kebaya, bukan memakai pakaian biduan/penyanyi yang sudah menjadi produk jualannya grup ketoprak komersial,”ujarnya.

Adegan perangnya Ronggolawe dengan Ronggo Janur yang tetap bersikukuh untuk membela Raja Jayakawang, tapi Ronggolawe tetap setia membantu Wijaya.

Akan tetapi, lanjutnya, ia pun menyadari permasalahan itu atau permasalahan di mana untuk ketoprak dewasa pada adegan tamansari, para pemainnya memakai kostum penyanyi dangut dan musik pengiringnya pun bukan lagi gamelan, tapi peralatan musik dangdut. Karena itu merupakan tuntutan para penonton, khususnya kalangan anak muda maka akhirnya hal itu pun berlarut.

Maksudnya, jika respons penonton tersebut sudah harus merogok kocek untuk nyawer tamansari maka para pemain tamansari yang merasa dirinya biduan tersebut pun turun ke dari panggung ke tempat penonton mengejar saweran. Kondisi seperti itu juga sudah diikuti pemeran dalam cerita ketopraknya, maka semua harus ditarik lagi ke porsi pertunjukan ketoprak aslinya, dan hal itu hanya bisa dilakukan jika yang memainkankan adalah ketoprak anak-anak.

Ada pun harapannya, nanti setelah mereka benar-benar bisa bermain ketoprak tidak meniru permainan ketoprak yang selama ini sudah dipilih oleh ketoprak orang dewasa. ”Untuk permainan ketoprak anak-anak, sebagai pelatih mereka masih banyak kekurangan tapi jika ditampilkan secara terjadwal tetap akan bisa memnggantikan pemain lain, dan menunjukkan bahwa Pati memang gudangnya seniman ketoprak,”tandasnya.