Harga Lahan di Kawasan Pulau Seprapat Saat Ini Sudah Capai Rp. 3 Juta/M2

0
24
Camat Juwana, Drs Sugiyono MM.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Jika saat ini harga tanah di wilayah Kecamatan Juwana yang langsung melejit, adalah lahan yang masih berupa areal tambak di kawasan Pulau Seprapat dan juga kawasan tempat kapal yang lokasinya bersebelahan. Akan tetapi tingginya harga lahan itu, bukanlah di lokasi yang di pinggir ruas jalan tapi sudah sedikit lebih jauh ke dalam, atau pada lahan yang masih berupa areal pertambakan.

Sedangkan harga yang ditawarkan pemiliknya, ungkap Camat Juwana, Drs Sugiyono MM, sudah pada tingkat Rp 3 juta per meter persegi. Karena itu, jika sekarang banyak warga yang hendak menjual lahan tambaknya, karena saat ini memang harga pada puncaknya, meskipun beradasarkan perhitungan aset harga tanah itu tidak ada kecenderungan naik-turun.

Dengan kata lain, bagi yang memiliki naluri berbisnis lebih tajam, membeli tanah dengan harga sebesar itu per meter persegi, tentu bukan suatu yang menghambur-hamburkan uang. ”Akan tetapi, pembeli yang benar-benar berminat karena peka dalam membaca peluang usaha yang menjajikan di kawasan Pulau Seprapat ke depan,”ujarnya,

Ini adalah bekas lahan tambak yang berlokasi tepat di pinggir jalan depan Pulau Seprapat yang sudah selesai diuruk oleh pembeli/pemiliknya.

Karena itu, lanjutnya, kawasan ini memang akan menjadi kawasan usaha besar dan padat modal sehingga peluang tersebut memang menjadi incaran, menyusul fasilitas pendukungnya juga mulai dimaksimalkan. Di antaranya, adalah peningkatan ruas jalan dari ujung yang melintas di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana sudah diubah dengan konstruksi rigid beton.

Belum lagi akses ruas jalan yang dari Dukuh Karangmangu juga di Desa Bajomulyo, saat ini juga sudah berubah menjadi akses ruas jalan dengan rigid beton pula. Dengan demikian, maka ke depan kawasan ini benar-benar sebagai kawasan usaha yang sangat mejanjikan bagi siapa saja yang mampu bersaing untuk mendapatkan dan memenangkan peluang.

Apalagi, baru dalam kondisi yang belum maksimal saja tiap sore sudah mampu menyedot kunjungan banyak warga yang hendak bersantai bersama keluarga di kawasan lokasi tersebut, meskipun hanya sekadar melihat diterbangkannya layang-layang naga raksasa. ”Jika tidak dalam situasi pandemi Covid-19, sudah barang tentu  tidak kami larang justru kami persilakan karena perekonomian juga tumbuh, di mana ada gula pasti semutnya berdatangan,”imbuh Sugiyono.