Bocah Berkebutuhan Khusus Ini Tak Tahu Bagaimana Kelak Masa Depannya

0
199
Arif Arifin dengan penderitaan yang menderanya sejak dilahirkan hingga sekarang.

SAMIN-NEWS.com,PATI – DOSA dan salah siapa jika seorang bocah harus berkebutuhan khusus sejak lahir hingga sekarang dengan umur yang sudah mencapai 8 tahun, sehingga siapa pun yang melihat akan diliputi pula tanda tanya besar. Yakni, bagaimana kelak masa depannya meskipun saat ini masih dalam rengkulan kasih sayang seorang nenek, setelah kedua orang tua bocah tersebut, Arif Arifin (8) harus pisah/cerai.

Jika neneknya, Mbah Ngajinah, warga RT 2/2 Desa Tegalarum, Kecamatan Jaken yang sehari-hari harus merawat atau sejak bocah yang ternyata membawa cacat sejak dilahirkan ke muka bumi oleh ibunya, Nur Setyowati,  yang kala itu umurnya baru 2,5 tahun. Akan tetapi kedua orang tuanya sudah meninggalkan bocah yang seharusnya merupakan buah hatinya, sehingga pengasuhan dalam pertumbuhannya sehari-hari harus dilakukan oleh neneknya.

Akan tetapi, bagimana dengan kondisi  bocah yang berkebutuhan khusus ini, jika suatu saat neneknya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya, maka paling tidak bocah itu masih butuh bimbingan atau memeliharanya sampai nanti benar-benar tumbuh dewasa, atau paling tidak sampai usianya bisa mandiri, paling tidak harus memasuki 17 tahun atau lebih. Padahal, saat ini, Arif, demikian ia dipanggil sehari-hari baru berusia 8 tahun.

Arif Arifin dengan penderitaan yang menderanya sejak dilahirkan hingga sekarang.

Sedangkan satu hal yang menghalangi bocah itu tumbuh sebagaimana lazimnya  dalam usia 8,5 tahun, tentu tidak semudah orang membicarakan. Sebab, kondisinya yang multi cacat bawaan sejak lahir adalah ternyata sudah harus menyandang tuna netra, bisu dan tuli, serta yang lebih memprihatinkan bocah tersebut tidak bisa bergerak leluasa , karena kedua kakinya juga menderita lumpuh..

Karena itu, sehari-hari jika neneknya harus mengurusi rumah dan kesibukan lain, maka agar Arif Arifin bisa ditinggal, maka satu-satunya cara, nenek Ngajinah harus menempatkan cucu lelakinya ini ke tempat ayunan dari karet ban yang dipasang di emper depan. Jika sudah demikian, maka cucunya hanya bisa patuh karena memang tidak bisa ke mana-mana.

Jika melihat kondisi Arif Arifin seperti itu, maka nenek Ngajinah hanya bisa berharap dalam hati siang dan malam, jika nanti cucunya tetap ada yang merawat, utamanya adalah ibu kandungnya sendiri yang memang sudah pisah/cerai dari suaminya, atau ayah Arif, yaitu Susilo. ”Ibunya pergi merantau ke Hongkong, dan ayahnya merantau ke Nusa Tenggara Barat (NTB),”ujar Mbah Ngajinah lirih.