Kru Ketoprak Laras Budaya Meninggal di Laut

0
329
Salah satu kru yang bertugas di Bagian Perlengkapan grup Ketoprak Laras Budaya Pati, Sudiyono alias Njendil (25), warga Desa/Kecamatan Wedarijaksa, Pati (duduk) di bawah panggung, Sabtu (26/9) malam lalu meninggal di laut, karena kecelakaan.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Lebih dari enam bulan meskipun dapat job tapi tak bisa melaksanakan pementasan karena di tengah-tengah situasi pandemi Covid-19, maka personel anggota grup ketoprak harus mencari terobosan agar bisa mempertahankan hidup keseharian. Salah satu di antaranya, adalah Sudiyono alias Njendil (25), warga Desa/Kecamatan Wedarijaksa, Pati yang selama masa pandemi terpaksa harus menjadi anak buah kapal (ABK) penangkap ikan.

Akan tetapi, saat kapal milik juragan asal Jakarta  baru dalam perjalanan menuju perairan Papua dari Pelabuhan Juwana, ABK yang bersangkutan bernasib naas. Sabtu (26/9) malam sekitar pukul 20.00 saat perjalanan kapal menuju ke parairan Maluku Tengah yang bersangkutan diduga keras tercebur ke laut, karena saat itu dia turun dari dek atas tempat ABK tidur pamit turun hendak membuang air kecil, dan ternyata tidak ada kembali.

Besar kemungkinan, ungkap pengurus grup Ketoprak Laras Budaya, Nirwan Basuki yang akrab disapa Wawan, berkait hal tersebut semuanya sudah diurus Kepala Desa Wedarijaksa, Bambang. ”Kami mendapat penjelasan dari Pak Kades, bahwa yang menimpa almarhum Njendil adalah murni kecelakaan di laut,”ujarnya.

Salah satu kru yang bertugas di Bagian Perlengkapan grup Ketoprak Laras Budaya Pati, Sudiyono alias Njendil (25), warga Desa/Kecamatan Wedarijaksa, Pati (duduk) di bawah panggung, Sabtu (26/9) malam lalu meninggal di laut, karena kecelakaan.

Sebab, lanjutnya, malam menjelang tidur bersama ABK lain, dia pamit turun hendak membuang air, dan ketika hal itu dilakukan laut dengan kondisi ombak besar sehingga saat berdiri tanpa berpegangan, tepat ombak besar menghantam yang membuatnya terpental. Saat terpental itulah jatuhnya korban ke laut, tapi teman-temanya baru menyadari kalau Sudiyono tidak kembali ke tempat tidur setelah tiga jam kemudian.

Akan tetapi pencarian dalam kapal yang dilakukan teman-temannya tidak membawa hasil, sehingga kapal pun sempat memutar haluan untuk kembali ke arah pelayaran semula sebelumnya, ternyata juga tidak ditemukan. ”Karena waktunya  sudah lewat tiga hari sejak kejadian Sabtu (26/9) malam, maka    akhirnya ditetapkan bahwa Sudiyono meninggal dan hilang di laut akibat faktor kecelakaan, dan sama sekali tidak ada unsur penganiayaan,”imbuhnya.

Ditambahkan, almarhum selain bertugas di bagian perlengkapan kadang-kadang juga membantu sebagai tenaga yang ikut mendirikan panggung, tapi kadang-kadang juga ikut diberi kesempatan bermain untuk peran yang tidak penting. ”Demkian pula dalam Film Saridin, dia juga dipercaya sebagai santri di Perguruan Kudus, dan karena tidak ada job main di tengah situasi pandemi agar bisa bertahan hidup dia berangkat melaut sebagai ABK penangkap ikan,”imbuh Wawan.