JLS Dilengkapi Saluran Pembuang Permanen

0
30
Para pekerja tengah melaksanakan pekerjaan pembuatan saluran pembuang di sepanjang pinggir ruas Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pati.
Ada pula warga yang menguruk akses menuju lahan miliknya dengan membuat gorong-gorong sendiri.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Para pemilik areal persawahan di sisi kiri (utara) Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pati, mulai dari Desa Ngawen hingga Penambuhan, Kecamatan Margorejo, Pati, paling tidak merasa lega. Sebab, pihak pengelola JLS sekarang tengah melengkapi fasilitas jalan nasional itu dengan saluran pembuang (dreainase), sehingga pada musim penghujan mendatang mereka tak perlu khawatir lahannya persawahan miliknya terkena genangan air.

Sebab, saluran pembuang tersebut terletak berbatasan dengan ruang milik jalan (RMJ) yang memisahkan antara areal persawahan milik warga dengan saluran tersebut. Dengan demikian, ke depan juga tidak akan terjadi lagi ”cangkul” petani yang menggaruk batas RMJ, karena batasnya selain pathok permanen juga saluran yang memanjang dari barat ke timur.

Dengan demikian, beberapa petani baik dari Desa Ngawen maupun Penambuhan, di Kecamatan Margorejo juga lebih senang batas masing-masing antara lahan persawahan miliknya dengan lahan lainnya tetap cukup jelas. ”Sebab, dengan saluran pembuang permanen maka semua sudah jelas batas-batasnya, sehingga tidak ada yang saling dirugikan,”ujarnya salah seorang di antara mereka, Atmo Giri, warga penambuhan Pati.

Warga yang menguruk bagian tepi JLS Pati, agar bisa masuk ke lahan miliknya yang biasa dipersiapkan untuk membuka kegiatan usaha.

Dilengkapinya ruas JLS Pati dengan saluran pembuang tersebut, lanjutnya, petani memang diuntungkan karena lahan sawahnya bila turun hujan deras tidak terkena limpasan genangan air yang  mengendap di batas RMJ. Sebab, air akan masuk ke dalam saluran yang terpasang  kemudian mengalir ke dalam alur kali baik di alur Kali Ngawen maupun  alur Kali Penambuhan.

Akan tetapi sebaliknya, saat musim hujan petani hanya akan mendapatkan air yang masuk ke sawahnya dari guyuran air hujan. Sehingga saat selesai panenan padi hasil tanam pada musim tanam (MT) I biasanya dilanjutkan dengan musim tanam (MT) II, dan untuk MT III dilanjutkan dengan menanam palawija.

Hanya kondisi sekarang sedikit berbeda, karena pada MT III biasanya masih ada pula yang menanam padi, tapi untuk mendapatkan air banyak petani yang menggunakan sistem pompanisasi. ”Yakni, mengebor sumur di areal persawahan dan untuk menyedot airnya hingga bisa dialirkan menggunakan pompa jenis cybel, maka di areal persawahan juga banyak terpasang jaringan listrik,”imbuhnya.