Di Pati Tak Terjadi Kekeringan Luas, Disebut Musim Kemarau Basah

0
53
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Budi Prasetyo.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Musim kemarau pada tahun 2020 ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Dimana untuk tahun lalu, musim kemarau dinilai lebih panjang masa waktunya. Dan hal ini, pada masa sekarang belum mencapai titik tersebut. Lantaran masih beberapa kali di Kabupaten Pati turun hujan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Budi Prasetyo, yang mana di wilayah Pati belakangan masih kerap diguyur hujan. Dan hal ini mempengaruhi tingkat kekeringan di beberapa wilayah kecamatan.

“Sampai bulan Agustus ini di Pati masih terdapat hujan. Meskipun dengan intensitas ringan. Namanya kalau meminjam istilah badan Meteorologi untuk tahun ini termasuk kategori musim kemarau basah. Karena tadi, masih adanya hujan,” ujarnya kepada Saminnews, Rabu (26/8/2020).

Pihaknya melanjutkan, berdasarkan data tahun 2019 kemarin, di wilayah Pati setidaknya terdapat 10 Kecamatan dan 139 desa yang mengalami kekeringan air bersih. Masing-masing diantaranya, Kecamatan Juwana, Batangan, Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Gabus, Kayen Sukolilo, serta Kecamatan Pati Kota yang meskipun hanya dua Desa, yakni Desa Sarirejo dan Rogowangsan.

Beberapa Kecamatan tersebut mengalami kekeringan dan dampaknya signifikan terhadap kelangkaan air bersih. Kemudian menjadi data acuan dan referensi informasi yang digunakan oleh pemerintah. Pada tahun ini, baru dua desa yang meminta bantuan air bersih. Dua desa itu yaitu di Desa Kedungmulyo Kecamatan Jakenan serta satu desa di Kecamatan Winong.

“Baru dua desa yang mengusulkan meminta bantuan droping air bersih dari kami. Untuk distribusinya di Desa Kedungmulyo sudah dilakukan hari Selasa (25/8) kemarin. Tapi desa yang satunya lagi belum didistribusikan,” terangnya.

Bantuan droping air bersih dari BPBD yaitu dua tangki air bagi tiap desa. Dimana anggaran yang dimiliki oleh lembaga kebencanaan tersebut diasumsikan hanya mampu menyediakan 100 tangki air. Artinya, jika tiap desa mendapat bantuan dua tangki, hanya 50 desa yang bakal kuota.

“Namun, sudah jelas jika hanya menggantungkan dari pembiayaan bpbd tidak akan cukup. Jelas akan kurang. Seperti pada tahun lalu kita bekerjasama dengan CSR perusahaan, maupun instansi untuk mau memberikan bantuan,” tandasnya.