Asriyadi; Lelaki Ini Harus Bertahun-tahun Kumpul Kebo

0
83
Asriyadi (55), ayah dua anak, warga Dukuh Kincir Tengah, Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Pati di tengah-tengah hewan kerbau piaraannya.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Mengikuti jejak kakeknya yang juga ditiru orang tuanya, lelaki ayah dua anak warga Dukuh Kincir Tengah, Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Pati, tak pernah melepas kesenangan dalam hidupnya. Yakni ini, selalu berada di kandang ternak kerbau piaraannya sehingga banyak gurauan yang ditujukan kepadanya, bahwa dia memang senang kumpul kebo.

Dalam keseharian lelaki itu hanya meninggalkan kandang kerbaunya  di pinggir jalan raya Juwana – Tayu saat harus bekerja sebagai buruh angkut ikan bandeng dari tambak menuju Pasar Porda, sehingga dalam kesempatan ini kumpul kerbau digantikan istrinya. Ternyata berada di kandang kerbau sebagai rumah kedua ini juga cukup menyenangkan, ternyata bisa mempertahankan populasi ternak jenis itu yang benar-benar tidak bisa punah.

Sebab, jika dihitung dari jumlah kandang di pinggir jalan raya tersebut mulai dari Langgenharjo,  Genengmulyo, Tluwuk hingga Desa Kepoh masih terdapat sedikitnya 20 kandang. Khusus dua desa yang disebut terakhir adalah masuk wilayah Kecamatan Wedarijaksa, terdapat delapan  kandang dengan isi rata-rata sampai sepuluh ekor kerbau,”ujarnya.

Sedangkankan di Dukuh Kincir ini, lanjutnya, ada 6 kandang dan Langgenharjo, 6 kandang sehingga seluruhnya ada 12 kandang, maka jumlah seluruhnya ada 20. Jika rata-rata isi sepuluh ekor seperti di kandang miliknya, maka di pinggir jalan raya ini terdapat 200 ekor kerbau yang selalu ditunggui siang malam baik oleh suami maupun istri pemiliknya, sehingga pasangan tersebut dikenai sebutan lain sebagai pasangan kumpul kebo, karena hasilnya memelihara hewan piaraan itu memang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Apalagi, jika saat ini kerbau piaraannya mencapai sebanyak 10 ekor, tiap tahun rata-rata bisa menjual kerbau anakan minimal dua ekor. Kerbau yang dijual ini, untuk hitungan umurnya sejak dilahirkan hingga induknya melahirkan satu anak baru, umurnya memang sudah mencapai dua tahun dua bulan, karena prinsipnya selama induknya belum melahirkan lagi maka anakannya dianggap belum siap jual.

Untuk menghitungnya, tiap induk itu dalam satu tahun atau tepatnya 1 tahun tiga bulan melahirkan anak satu ekor, maka umur anak yang baru dilahirkan harus menunggu sampai induknya melahirkan satu ekor lagi. ” Dengan demikian, anak yang pertama sudah siap jual, dan bila memasuki hari Raya Idul Adha harga seekor kerbau peranakan itu bisa mencapai Rp 20 juta berumur dua setengah tahun,”imbuhnya.