Pentingnya Edukasi Warga untuk Meredam Stigma

0
17
Camat Dukuhseti Agus Purwanto.

SAMIN-NEWS.com, PATI – Di tengah pandemi yang begitu hebat, kita dikejutkan dengan fenomena stigmatisasi yang justru marak di tengah masyarakat. Dipengaruhi penyebaran yang masif membuat perubahan serta pergeseran terhadap persoalan ekonomi, keamanan, sosial, bahkan berdampak pada budaya.

Disadari atau tidak, timbulnya wabah pandemi Covid-19 memicu pola cara pandang masyarakat (stigmatisasi). Lebih lanjut, persoalan yang ditimbulkan adalah dengan hadirnya berbagai ketakutan masyarakat luas terhadap orang yang dicurigai telah terpapar virus corona.

Stigma sendiri didefinisikan pada penilaian lingkungan kepada suatu individu atau kelompok tertentu. Penilaian yang diberikan seringkali merupakan penilaian negatif. Stigma yang melekat pada seseorang atau sekelompok orang tertentu seringkali membuat penerima stigma menerima perlakuan diskriminatif dari kelompok mayoritas, sehingga mereka merasa tertolak oleh lingkungannya.

Pemberian edukasi disini merupakan salah satu kunci pemberian pemahaman terkait topik Covid-19. Bahwa bagaimana cara menyikapi terhadap lingkungan di luar dirinya adalah tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini berdampak urungnya stigmatisasi yang berkembang di pusaran pemikiran masyarakat luas.

“Pengarahan tentang bagaimana memberi pemahaman atas edukasi kepada masyarakat untuk tidak terlalu menghakimi warga lain,” kata Camat Dukuhseti Agus Purwanto kepada Saminnews, Senin (27/7/2020).

Tidak jarang stigmatisasi yang berkembang di masyarakat akan menciptakan gap (dekat, red) kepada aparat. Misalnya, tidak respek kepada pihak petugas kesehatan dengan alasan tertentu. Misalnya, takut berinteraksi dengan semua perawat. Lalu, ketika timbul ketakutan yang berlebihan memicu adanya paranoid.

“Pemahaman masyarakat dalam edukasi tak sampai disitu. Untuk menghindari juga misalnya sikap Apriori (tak menghargai, red) terhadap aparat,” tambah dia.

Sikap ketakutan yang berlebihan (paranoid) ini pada titik tertentu akan menyebabkan sikap anti-sosial. Kita tahu sendiri dengan beberapa pemberitaan kasus penolakan jenazah oleh sejumlah warga. Pasalnya, anti-sosial bisa berakibat curiga berlebihan, yang membuat orang acuh tak-acuh atau tidak peduli kepada orang lain.