Luthfa Nugraheni, Pentingnya Rumah untuk Mendongeng

0
26
Luthfa Nugraheni Mahasiswa Program Dokter Universitas Sebelas Maret Surakarta.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Dalam penyampaian materi Pengembangan Media Pembelajaran Cerita Rakyat Berbasis Pendidikan Karakter Pada Peserta Didik Sekolah Dasar di Kabupaten, seorang mahasiswa program doktor Universitas Sebelas Maret, utuk program studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Luthfa Nugrahani mengatakan, apa yang kini tengah dilakukan tidak hanya sebatas itu. Dia ingin menindaklanjutinya dengan mempunyai sebuah rumah sebagai fasilitas untuk mendongeng oleh dan untuk  anak-anak.

Hal tersebut disampaikan dalam kesempatan menggelar Forum Group Discussion (FGD), di lantai I OR Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Rabu ( 29/7) tadi pagi. Dalam FGD terbatas itu selain dihadiri beberapa guru termasuk guru TK Aisyiah, Nurti Wijayanti juga ada guru SD, budayawan serta awak media dari e-Koran Samin-News (SN) Pati.

Diusungnya tema tersebut, kata Luthfa Nugraheni karena materi yang dipilih adalah tentang cerita rakyat sebagai sejarah tentang sosok Wasis Joyokusumo. Sebab tokoh itu mempunyai karakter yang baik bagi anak-anak , maka apa yang dilakukan saat ini tidak hanya berhenti sampai di batas ini saja, karena akan diupayakan agar pihaknya bisa menyediakan fasilitas/tempat berupa Rumah untuk Mendongeng.

Apalagi, media ini sekarang hampir-hampir dilupakan karena jarang yang tertarik sebagai pendongeng atau dongeng sebagai media pembelajaran.”Bahkan mendongeng bagi anak-anak yang baru duduk di bangku Kelas III  adalah sekaligus meningkatkan kemampuan  mereka agar bisa berbicara,”ujarnya.

Karena itu, lanjutnya dalam penyampain cerita rakyat tentang Wasis Joyokusumo ini akan disampaikan kepada murid Kelas III dengan menggunakan media Wayang Beber. Sebab, hal tersebut merupakan salah satu media pertunjukan tradisonal yang untuk memainkannya dengan cara menggelar/membeber gambar wayang yang awalnya mengambil cerita Panji, yaitu Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

Ternyata di balik upaya mengginakan media Wayang Beber tersebut, anak-anak justru lebih memilih dan mengenal wayang kulit. ”Padahal adanya wayang beber tersebut, adalah sebagai wayang yang kali pertama ada di Indonesia, sehingga hal tersebut dimanfaatkan untuk membeber media pembelajaran cerita tentang Wasis Joyokusumo,”paparnya.

Dalam kesempatan itu, Luthfa Nugraheni juga membutuhkan masukan tentang karakter tokoh-tokoh dalam cerita Wasis Joyokusumo. Sehingga banyak masukan dari peserta FGD terbatas, utamanya dari Nurti Wijayanti yang menyarankan agar cerita lebih difokuskan pada upaya untuk membentuk karakter anak.

Dengan demikian, tentang Wasis Joyokusumo yang digambarkan sebaga sosok tokoh yang ”jadug” lewat keris pusakanya agar lebih disederhanakan pemahamannya, yaitu sebagai sosok pemimpin yang dipatuhi dan benar-benar menjadi panutan rakyatnya. Tak ketinggalan sosok prajurit Wasis Joyokusomo yang disebut sebagai Bondan Srati adalah sosok yang mempunyai kepatuhannya dan kesabaran yang luar biasa.