Indonesia Tak Pernah Kekurangan Sampah

0
12

BELUM lama ini otoritas malaysia berhasil mengungkap kasus penyelundupan limbah beracun berupa 110 kontainer logam berbahaya dari Romania ke negaranya. Kalau saja kasus tersebut tidak terungkap di Malaysia, limbah ilegal tersebut akan diteruskan untuk diselundupkan ke Indonesia.

Menteri Lingkungan Malaysia Ibrahim Tuan Man mengatakan, 1.864 ton electric arc furnace dust (EAFD) produk sampingan dari produksi baja yang mengandung logam berat seperti seng, kadmium, dan timah ditemukan dan ditinggalkan begitu saja di pelabuhan Tanjung Pelepas di negara bagian Johor.

Dalam Konvensi Basel, EAFD diklasifikasikan sebagai limbah beracun dan telah terdaftar serta dideklarasikan sebagai seng pekat. Saat ini pihak Malaysia telah menghubungi otoritas Konvensi Basel Romania untuk mengatur pemulangan kontainer dan telah melibatkan Interpol untuk penyelidikan lebih lanjut.

Permasalahan impor sampah tersebut bermuara pada saat negara-negara maju mulai gencar mengirim sampah ke Asia Tenggara melalui Hong Kong, setelah Cina berhenti menerima limbah plastik dan daur ulang dari seluruh dunia karena masalah lingkungan.

Sejak saat itu, negara-negara maju mencari alternatif lain untuk membuang sampah mereka dengan mengekspor bahan limbah ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

Dampak dari hal tersebut terbukti membuat volume impor sampah Indonesia makin menggunung. Pada 2015-2017, impor sampah Indonesia fluktuatif dari 200 sampai 2.000 kontainer per bulan. Namun, sejak 2018 hingga April 2020, volume impor sampah meningkat pesat menjadi 2.000-6.000 kontainer per bulan.

Dan lebih parahnya lagi, sebagian besar limbah yang masuk tersebut biasanya tercampur dengan plastik kualitas rendah dari negara maju yang tidak dapat didaur ulang. Pemeriksaan tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada April lalu bahkan menemukan peti kemas itu bercampur limbah medis.

Lama-lama malah bikin pusing, sampah saja kok diekspor. Lha ini Indonesia kok ya mau nampung? Padahal di Indonesia sampah juga sudah menggunung. Belum lagi jika ditambah dengan sampah masyarakat yang selalu meresahkan, apa baiknya mereka di ekspor saja?