Pedagang Datangkan Pasokan Janur dari Magelang

0
22
Dengan kendaraan bak terbuka seorang pedagang janur asal Gembong, Pati harus mendatangkan pasokan bahan membuat ketupat itu dari Magelang (atas) dan seorang pedagang janur lainnya dari Tlogowungu (bawah).(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.comĀ  PATI (SN) – H-3 Lebaran Kamis (21/5) kemarin sejumlah pedagang janur bahan untuk membuat ketupat dan lepet yang secara turun temurun sudah mentradisi, mulai berdatangan di Pasar Puri Pati. Bahkan peluang tersebut juga dimanfaat satu di antara mereka, Margono (37) asal Gembong harus mendatangkan pasokan daun pohon kelapa yang masih muda itu dari Magelang.

Mereka tetap optismistis, kondisi Lebaran di tengah-tengah merebaknya penyebaran virus Corona (Covid-19) ini tidak akan banyak mempengaruhi barang dagangannya, tapi dia juga menyadari hasil pejualan nanti akan sedikit berkurang. Hal sama juga diungkapkan seorang pedagang janur yang mendapatkan barang dagangannya dari daerah sendiri, Sakijan (45), asal Desa Cabak, Kecamatan Tlogowungu, Pati.

Sekitar pukul 15.00, keduanya bersama pedagang janur yang lain sudah mencegat pembeli di pintu masuk sisi utara Pasar Puri Pati, tapi belum banyak pembeli yang mencari dagangannya. Pembeli ini biasanya menjual janur itu lagi ke daerah lain, utamanya ke Pasar Juwana, Batangan, Jaken, Pucakwangi, Winong, Gabus, Tambakromo, Kayen, dan Sukolilo.

Akan tetapi, pembeli yang biasa membutuhkan janur dalam jumlah banyak ini belum banyak yang datang ke pasar. ”Biasanya, saat berjualan pada siang menjelang sore hari pada Lebaran tahun sebelumnya minimal sudah bisa laku sedikitnya 3.000 helai dengan harga per seribu rata-rata Rp 300.000,”ujar Margono seraya menambahkan, dari uang penjualan yang terkumpul malam harinya bisa berangkat lagi ke Magelang.

Sesampainya di tempat tujuan, masih kata dia, sudah tersedia barang dagangan yang siap dibayar dengan cara pembelian per pelepah daun kelapa muda itu. Harganya per pelepah, adalah Rp 20.000 dan bila janurnya dalam kondisi baik bisa menghasilkankan antara 100 s/d 125 helai setelah diambil dari pelepahnya. Dengan demikian, untuk bisa medapatkan janur per ikat berisi 1.000 lembar minimal harus membeli 10 pelepah.

Jika harga per pelepahnya adalah Rp 20.000 maka untuk menjualnya kembali per 1.000 helai harus Rp 300.000, sehingga keuntungan didapat rata-rata per 1.000 adalah Rp 100.000. Sedangkan untuk ke utuhan lain, seperti makan dan bahan bakar serta kebutuhan lainnya, bisa ditutup dari kelebihan per pelepah jika mampu menghasilkan janur rata-rata 125 helai, ada kelebihan 10 pelepah 250 helai atau senilai Rp 75.000.

Ternyata setelah sampai di tempat penjualan di Pasar Puri ini, pembeli janur dalam jumlah besar yang akan dijual lagi, belum sebanyak Lebaran tahun lalu. ”Akan tetapi, Lebaran masih tiga hari lagi, dan biasanya Lebaran hari ketiga masih ada pembeli, karena ketupat maupun lepet banyak juga warga yang membuatnya dua atau tiga hari setelah Lebaran,”imbuh Margono.

Sementara itu, Sukijan penjual janur asal Cabak dalam kesempatan tersebut menuturkan, kalau dia menjual janur per 1.000 helai harganya Rp 325.000 karena di daerah pegunungan ini pohon kelapa sudah mulai berkurang sehingga untuk mendapatkan janurnya pun mulai sulit. ”Dengan harga penawaran tersebut sampai saat ini dagangan kami belum laku, karena pembeli dalam jumlah banyak untuk dijual lagi belum ada yang datang,”tuturnya.