New Normal, Antara Optimis dan Pesimistis Terhadap Corona

0
10

SAMPAI saat ini, Presiden Jokowi belum berencana melakukan pelonggaran ataupun memberhentikan PSBB di Indonesia. Akan tetapi ia membawa istilah yang seolah akan membangun optimistis bahwa masyarakat akan kembali hidup normal.

Menurutnya, masyarakat harus berdamai dengan diri sendiri dalam menghadapi pandemi yang menggila saat ini.

Jokowi berpendapat bahwa hidup berdamai dengan diri sendiri dan covid-19 bukan berarti pesimistis dan menyerah pada virus tersebut. Ia justu membawa istilah “New Normal” dengan harapan agar masyarakat dapat kembali berakitifitas dengan normal meskipun harus tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Keselamatan masyarakat tetap harus menjadi prioritas. Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai ‘new normal’ atau tatanan kehidupan baru,” imbuh Presiden.

Orang nomor satu di Indonesia tersebut optimistis masyarakat akan terhindar dari virus corona asalkan mereka mau menaati protokol kesehatan dengan menjaga jarak aman, menjaga kebersihan dan sebagainya. Menurutnya kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek harus tetap berlangsung meskipun sedang dalam masa sulit seperti ini.

Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu, Gubernur Jawa Barat justru mempertanyakan istilah new normal tersebut. “Kalau dipikir-pikir, kenapa new normal? Kenapa mesti baru (new)? Padahal semua keadaan ambyar ini kan emang sudah normal,”

Menurutnya tanpa ada istilah tersebut pun, masyarakat juga sudah capek dan menganggap kehidupan saat ini sudah normal dan sangat biasa untuk dijalani. Tetapi terlepas dari semua itu, semoga munculnya istilah new normal bukan berarti pemerintah sudah capek dan jengah dalam urusan penanganan pandemi ini…