SAMIN-NEWS.com – Musafak selaku pemilik Permata Cafe menggelar acara ngaji bareng bersama Gus Miftah dan insan karaoke Kabupaten Pati, Selasa (12/5/2026) sore di Permata Cafe Pati, kegiatan tersebut dihadiri para pekerja hiburan malam, pengusaha karaoke, hingga masyarakat umum.
Dalam kesempatan itu, Gus Miftah menyampaikan tausiyah sekaligus menanggapi ramainya kasus dugaan tindak asusila yang menyeret oknum pengasuh pondok pesantren di wilayah Tlogosari.
Saat diwawancarai wartawan, Gus Miftah mengatakan dirinya telah mendapat konfirmasi dari Gus Rojin terkait sosok yang menjadi sorotan dalam kasus tersebut.
“Gus Rojin teman saya sudah mengonfirmasi bahwa yang bersangkutan bukan kiai, Orang yang membuat panti asuhan atau apa lah, kemudian diberi plakat pesantren belum lama,” ujar Gus Miftah.
Ia menegaskan agar masyarakat tidak menggeneralisasi seluruh pondok pesantren akibat ulah oknum tertentu.
“Jangan karena satu oknum kemudian yang mendapat label seluruh pesantren di Indonesia, kalau di kampus ada kasus seperti itu, yang disalahkan tersangkanya, oknumnya, bukan kampusnya, tapi kenapa kalau terjadi di pesantren yang disalahkan pesantrennya,” lanjutnya.
Menurutnya, kasus tersebut harus difokuskan kepada pelaku secara pribadi, terlepas dari status pelaku sebagai kiai ataupun bukan.
“Harusnya dilokalisir kepada yang bersangkutan, terlepas ini kiai apa dukun, saya selaku praktisi di dunia pesantren, kalau ini benar-benar terjadi saya minta aparat penegak hukum betul-betul menegakkan aturan hukum seberat-beratnya tanpa memandang dia siapa,” tegasnya.
Gus Miftah juga meminta Kementerian Agama Republik Indonesia melakukan evaluasi terhadap sistem perizinan pondok pesantren agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Ini tentunya Kementerian Agama harus mengevaluasi, termasuk soal pemberian izin kepada pondok pesantren. Syarat-syaratnya harus diperjelas supaya tidak ada kejadian seperti ini lagi,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa seorang kiai tetap manusia biasa, namun tidak bisa menjadikan alasan khilaf untuk membenarkan tindakan melanggar hukum.
“Memang kiai juga manusia biasa, tapi jangan mengatasnamakan manusia biasa lalu berbuat khilaf seperti itu, kalau kejadian di banyak tempat, ini akan merugikan pesantren secara keseluruhan,” imbuhnya.
Selain menyoroti persoalan pesantren, Gus Miftah juga menegaskan komitmennya untuk terus berdakwah dan mendampingi para pekerja hiburan malam.
“Saya tetap berkomitmen membersamai teman-teman saya yang ada di karaoke, di lokalisasi, di dunia malam, Agama itu hadir membawa harapan, termasuk harapan terhadap pendosa bahwa mereka masih bisa menjadi lebih baik,” tuturnya.
Sementara itu, Musafak selaku pemilik Permata Cafe mengaku bersyukur kegiatan ngaji bersama Gus Miftah kembali bisa terlaksana untuk kedua kalinya.
“Gus Miftah sudah dua kali hadir di sini, Insyaallah tahun berikutnya dijadwalkan rutin, sedang ditata oleh Gus Yuda, insyaallah dirutinkan tiga bulan sekali,” ujar Musafak.
Ia menambahkan, ke depan pengajian rutin tersebut akan terus menghadirkan Gus Miftah sebagai pengisi utama dan jadwalnya sudah mulai disusun.
