Ujian Praktik Unik, Siswa SMAN 1 Pati Peragakan Tradisi Sedekah Bumi

SAMIN-NEWS.com – Ada suasana berbeda di SMAN 1 Pati pada 11 dan 12 Februari 2026. Para siswa kelas XII tidak membawa perlengkapan belajar seperti biasa, melainkan peralatan kesenian, atribut karnaval, baju adat, alat musik karawitan, hingga properti acara adat desa.

Sekolah tersebut menggelar ujian praktik dalam balutan tradisi sedekah bumi. Para siswa tampil nyentrik dengan busana adat khas sejumlah desa di Kabupaten Pati. Mereka memeragakan berbagai peran, mulai dari pranatacara, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, seniman, pemain musik, hingga warga setempat.

Kepala SMAN 1 Pati, Wiyarso, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan penilaian sumatif akhir jenjang yang dikemas secara kolaboratif lintas mata pelajaran.

“Acara ini ko-kurikuler empat mata pelajaran yang menjadi kolaborasi antara lain Pendidikan Agama, PKWU, Bahasa Jawa, Seni Budaya. Ini salah satu jenis penilaian sumatif akhir jenjang, kalau dulu dinamakan ujian praktik sekolah,” ujarnya.

Kegiatan bertema Konservasi Budaya dengan subtema Sedekah Bumi ini diikuti seluruh siswa kelas XII yang dibagi dalam dua hari pelaksanaan, masing-masing enam kelas per hari. Dalam pementasan, siswa wajib memadukan unsur Bahasa Jawa, nilai budaya, doa dan syukuran dalam Pendidikan Agama, serta pengenalan produk khas desa melalui mata pelajaran PKWU.

“Peserta semua kelas XII dibagi dua hari, ada 6 kelas hari ini, besok Kamis juga 6 kelas. Karena gabungan empat mapel, jadi materinya harus ada Bahasa Jawa semua menuturkan Bahasa Jawa, ada unsur budayanya, ada Pendidikan Agama seperti doa-syukuran dan lain sebagainya, ada PKWU yang siswa-siswi mengenalkan produk khas suatu desa,” jelasnya.

Beragam desa diangkat dalam pementasan, seperti Desa Cabak, Sambirejo, Randukuning, Kropak, Gabus, Kaborongan, dan lainnya. Setiap kelas dituntut menampilkan karakter dan kekhasan desa yang dipilih.

“Sedekah bumi desa maka menampilkan budaya di desa sesuai masing-masing desa yang diangkat. Ketika mengangkat desa A harus menyesuaikan gambaran desa itu,” kata Wiyarso.

Ia berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran siswa untuk melestarikan tradisi lokal, sekaligus membekali mereka agar siap terlibat langsung dalam kegiatan adat di lingkungan masing-masing.

“Harapannya agar anak-anak lebih bisa memahami bahwa ada tradisi yang harus dilestarikan yaitu sedekah bumi, sehingga ketika sudah praktik di desa, mereka bisa menjadi panitia atau penyelenggara. Saya amati anak-anak hebat sekali,” tuturnya.

Antusiasme juga dirasakan para siswa. Salah satunya Balqies Iqa Nur Azizah dari kelas XII F-6 yang bersama 36 teman sekelasnya menampilkan sedekah bumi Desa Cabak, Kecamatan Tlogowungu.

“Seru. Kita nguri-uri budaya, kelas kami mempraktikkan sedekah bumi dari Desa Cabak,” ungkap Balqies.

Ia mengaku persiapan dilakukan dengan penuh semangat, bahkan hingga dini hari.

“Kami ada 36 siswa. Yang paling excited kita persiapan sampai jam 3 pagi,” katanya.

Balqies pun mengapresiasi kegiatan tersebut dan merasa bangga bisa ikut melestarikan kebudayaan lokal melalui ujian praktik yang kreatif dan bermakna.

Previous post Kemenag Pati Luruskan Video Viral Joget di Acara Haflah
Next post Banjir Genangi Pantura Pati–Juwana, Arus Lalu Lintas Sempat Tersendat

Tinggalkan Balasan

Social profiles