Gubernur Jawa Timur Kukuhkan Pengurus APTRI Periode 2022-2027

0
105
Pelantikan pengurus APTRI
Pelantikan Dewan Pembina dan Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Hotel Best Western Papillio Surabaya.(Foto:Istime/pemprov-jatim)

SAMIN-NEWS.com, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengukuhkan Dewan Pembina dan Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indoensia (APTRI) masa bakti 2022-2027. Acara tersebut berlangsung di Hotel Best Western Papillio Surabaya, Sabtu (19/Maret) 2022 kemarin.

Dalam kesempatan tersebut sebagaimana dikutip mantan Sekretaris Umum (Sekum) APTRI periode sebelumnya yang dalam Munas ke 2 Jumat dan Sabtu kemarin untuk Dewan Pimpinan Pusat (DPP) terpilih sebagai Ketua Organisasi dan Kaderisasi, H Adjie Sudarmadji, kepada para pengurus yang dilantik Gubernur Khofifah berpesan tentang beberapa hal. Di antaranya, untuk memanfaatkan transformasi digital.

Hal itu bisa dimanfaatkan dalam proses produksi tanam, panen sampai ke pabrik gula penggilingan tebu. Dengan adanya sistem digital, lanjutnya, maka para petani dapat meningkatkan kualitas bibit tebu, untuk ditanam, musim panen, hingga ke pabrik gula penggilingan saat antrean penggilingan agar lebih produktif dan efisien.

Dengan demikian, digilitalisasi sistem ini memuat data apa saja yang bisa memberikan informasi kepada kita terkait produksi tebu. Jika hal itu terkoneksi antara satu petani tebu dengan yang lain, maka akan memudahkan pemetaaan dan pengaturan mulai cari bibit yang baik, dan kapan saat panen. ”Hal tersebut untuk menghindari agar antrean saat penggilingan tidak terlalu lama, serta kadar rendemen gula yang transparan,”ujarnya.

Selain memanfaatkan teknologi, masih kutip H Adjie Sudarmadji tentang sambutan Gubernur Jatim itu juga meminta APTRI melakukan koordinasi dan sinergi dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Selebihnya juga dengan pabrik gula yang ada, untuk menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dan menguatkan, utamanya dalam penyediaan bahan baku tebu untuk pabrik gula.

Jadi, pabrik gula juga sebagai bagian industri pengolahan hasil perkebunan, sehingga komunikasi dan koordinasi baik dengan pabrik gula maupun PTPN harus terjalin dengan baik. ”Dengan demikian, segala masalah yang ada bisa dicarikan solusi dan komunikasi terbaik,”paparnya.

Gubernur Khofifah saat memberikan sambutan dalam Munas ke 2 APTRI di Hotel Best Western Papillio Surabaya
Gubernur Khofifah saat memberikan sambutan dalam Munas ke 2 APTRI di Hotel Best Western Papillio Surabaya.(Foto:Istimewa/pemprov-jatim)

Adapun yang tidak kalah penting, lanjutnya, para petani tebu juga harus melakukan koordinasi dengan beberapa instansi yang memiliki pusat penelitian untuk menghasilkan bibit tebu yang berkualitas, terutama kadar rendemen. Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen.

Jadi bila bibitnya baik, berkualitas baik, bongkar ratunnya terukur, maka tingkat rendemannya juga terukur sehingga tingkat rendemennya juga akan baik. ”Jadi ini harus dikoordinasikan dengan instansi terkait , terutama soal bibit tebu,”terangnya.

Lebih lanjut disampaikan mantan Mensos RI  itu, bahwa 95 persen petani tebu di Jatim adalah petani rakyat. Itu artinya, bahwa para petani rakyat tersebut bisa menjadi pengusaha di bidang bahan baku pergulaan. Untuk itu, koordinasi dan sinkronisasi baik dari para petani tebu rakyat, APTRI, pabrik gula maupun PTPN harus terkonsolidasi dengan baik.

Dengan bersinergi tentunya untuk memberikan proteksi terhadap petani tebu, semisal jika petani tebu sedang panen, tentu jangan digiling bersamaan dengan rawsugar yang diimpor. ” Hal itu harus dimanage dengan baik, untuk memproteksi para petani tebu yang sebagian besar adalah petani rakyat,”imbuh Khofifah.

Foto bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah, HM Arum Sabil, beserta jajaran Pengurus APTRI (Foto:istimewa/pemprov-jatim)
Foto bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah, HM Arum Sabil, beserta jajaran Pengurus APTRI (Foto:istimewa/pemprov-jatim)

Sebagai informasi, Tahun 2021 produksi tebu di Jawa Timur mencapai 14.767.763 ton dan menghasilkan gula  sebanyak 1.087.415 ton. Jumlah produksi gula mencapai 46,25 persen dari keseluruhan produksi gula nasional. Hingga saat ini Provinsi Jawa Timur menjadi provinsi penghasil gula tertinggi di Indoensia.

Sementara itu, Ketika Dewan Pembina APTRI H Arum Sabil menjelaskan, bahwa pelaksanaan Munas dan Pengukuhan Pengurus APTRI dilakukan di Jawa Timur, karena Jatim merupakan basis pabrik gula dan basis petani tebu. Luas perkebunan tebu di Jawa Timur kurang lebih hampir mencapai 50 persen luas perkebunan tebu nasional.

Karena itu, Jawa Timur merupakan barometer dan kunci kebangkitan gula nasional. ”Ke depan kami juga berharap agar swasembada gula di Indoensia ini benar-benar bisa terwujud,”pungkasnya.

Struktur dan personalia Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia masa bakti 2022-202.(Foto:SN/dok-jie) 
Struktur dan personalia Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia masa bakti 2022-2027.(Foto:SN/dok-jie)

Dalam kesempatan tersebut, masih kutip H Adjie Sudarmadji, ikut dikukuhkan pula Dewan Pembina dan Pengurus APTRI masa bakti 2022-2027. Adapun susunannya sebagai berikut, Ketu Dewan Pembina (H Arum Sabil), Ketua Dewan Kehormatan (H Abdul Wachid), Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (H Fatchuddin Rosyidi), Sekretaris Umum (H Sunardi Edi Sukamto), serta Bendahara Umum (I Made Windu).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, di antaranya adalah Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Dirjen Perkebunan Kementrian Pertanian RI, Ardi Praptono dan Direktur Produksi PTPN 3 Holding Mahmudi. Selain itu Dirut Sinergi Gula Indoensia Aris Toharisman, Direktur PTPN X Tuhu Bangun, Direktir PTP XI Tulus Pandu Wijaya. Sedangkan yang lain, yaitu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Jawa Timur, Hadi Sulistyo, dan Kepala Dinas Perkebunan Prov Jatim, Heru Suseno.