Pandemi Menyebabkan Pendidikan Tertinggal, KSP Dorong PTM 100 Persen

0
40
Deputi II Kepala Staf Presiden (KSP) Abetnego Tarigan (KSP)

SAMIN-NEWS.com, Pendidikan di Indonesia selama pandemi Covid-19 menyebabkan ketertinggalan dibanding dengan pendidikan negara lain. Selama pandemi itu pendidikan di Indonesia menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui metode ini dirasa kurang efektif yang notabenenya dari dulu mindset pendidikan dilakukan secara tatap muka. Bahkan, penyampaian materi pun kepada peserta didik lebih mengena secara face to face.

Oleh karena itu, Kepala Staf Presiden (KSP) mengatakan pemerintah menyikapi kondisi pendidikan di Indonesia dengan menerapkan kembali pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen. Hal itu dilakukan guna mengejar pendidikan.

“Selama pandemi kondisi pendidikan di Indonesia bisa dikatakan tertinggal dibanding dengan negara-negara lain, ini yang harus kita kejar,” ujar Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Abetnego Tarigan dilansir dari siaran pers KSP, Selas (4/1/2022).

Penerapan PJJ selama pandemi adalah suatu hal yang baru. Meski beberapa pada lembaga pendidikan di Indonesia sudah menerapkan PJJ melalui sarana dan prasarana yang dimiliki terhadap peserta didik, namun terbilang persentasenya sangat minim.

Di sisi lain, kontrol pendidik atau guru saat PJJ berpengaruh terhadap suksesnya penyampaian materi. Selain itu, siswa atau peserta didik di luar lingkungan sekolah juga kurang pengawasan dan pendampingan oleh orang tua.

“PJJ yang telah dilakukan selama dua tahun memberikan beban psikologis dan merubah pola belajar peserta didik. Terlebih keterampilan orang tua dalam mendampingi dan mengajar peserta didik tidak semua sesuai dengan standar pendidik,” lanjutnya.

KSP, katanya ikut mendorong pemerintah menerapkan PTM 100 persen. Namun wajib diawasi dengan ketat. Di antaranya adalah pemeriksaan surveilans terhadap warga sekolah secara acak dan rutin, kerja sama sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik), dan Dinas Kesehatan (Dinkes).

“Sehingga nanti jika ditemukan kasus baru bisa segera dimitigasi dan cepat diambil langkah pengendaliannya,” tutup Abet.