Di Lorong Indah Petani Punya Gardu Listrik Sendiri

0
76
Berkerangka tiang bambu, beratap dan berdinding yang sedang model saat sekarang, galvarum para petani di kawasan ”Lorong Indah” (LI) Dukuh Bibis, Desa/Kecamatan Margorejo mempunyai gardu listrik sendiri (atas). Dua orang dari Biro Teknik Listrik (BTL) tengah mengecek masing-masing deretan meter yang terpasang.(bawah). (Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Disalurkannya kembali daya listrik dari jaringan yang menuju ke kompleks Lorong Indah (LI) Dukuh Bibis, Desa/Kecamatan Margorejo, para petani di kawasan tersebut menyambutnya dengan senang hati. Sebab, sekarang mereka bisa memanfaatkan daya listrik PLN yang sudah tersambung kembali itu untuk kepentingan usahanya bercocok tanam.

Kebanyakan dari mereka, adalah para petani penyewa lahan yang berasa dari wilayah Kecamatan Margorejo yang membutuhkan air untuk keperluan bercocok tanam. Yakni, dengan membuat sumur pompa yang ditunjang kelengkapan cybel sehingga bisa mengangkat air cukup maksimal tapi harus menggunakan daya listrik maksimal pula.

Karena itu, papar salah seorang tenaga dari sebuah BTL di Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Supar, para petani di kawasan tersebut bisa bercocok tanam padi sepanjang musim dengan kebutuhan air bisa dipasok sendiri dari sumur milik sendiri. Sedangkan pihaknya, hanya membantu mengatur penyambungan teknis jaringan sampai tersedianya daya yang siap digunakan.

Dengan demikian, para petani yang bersangkutan juga memiliki gardu listrik sendiri yang ditempatkan di pinggir jalan, tak jauh dari kompleks LI yang sudah empat bulan lebih ditutup. ”Jujur saja, selain digunakan mengangkat air dari sumur pompa yang didukung kelengkapan cybel, daya listrik tersebut ada yang dimanfaatkan untuk menjebak hama tikus,”ujarnya.

Seorang petani memasang tulisan pemberitahuan jangan trun ke sawah karena ada strum listrik (atas) dan personel BTL Supar bersama seorang temannya (bawah).(Foto:SN/aed)

Akan tetapi, lanjutnya, para petani ini tetap berlaku tertib sehingga tidak asal sembarangan menyambung kabel, dalam upaya mendapatkan daya. Sebab, mereka adalah resmi tercatat sebagai pelanggan sehingga masing-masing mempunyai satu fasilitas meter yang terpasang pada panel dinding gardu.

Tercatatnya mereka sebagai pelanggan, maka daya yang disalurkan melalui meter atas namanya juga tidak bisa asal-asalan, melainkan harus diberi rata. Sedangkan jumlah meter yang terpasang juga dibatasi, hanya sebanyak 21 unit dan tiap unit tersalur daya sebesar 2.200 watt, sehingga jika muatannya melebihi kapasitas daya terpasang sebagaimana biasa ”Miniatur Circuit Breaker” (MCB ) pasti akan ”jegleg.”

Menjawab pertanyaan, Supar menambahkan, penyediaan meter listrik di gardu petani itu memang sengaja dibatasi. Sebab, jika dipasang melebih jumlah tersebut konsekuensinya akan terjadi pada kemampuan penyediaan daya, terutama jika semua petani menghidupkan/memanfaatkan daya listrik secara maksimal dan bersama-sama.

Hal tersebut tak bisa dihindari pada saat musim kemarau, di mana para petani harus menggunakan pompanya mengangkat air dengan pompa untuk mengairi sawahnya yang akan ditanami padi. ”Sedangkan untuk mendisiplinkan petani membayar iuran langganan sekarang cukup membeli pulsa jika pulsa untuk daya listriknya sudah habis,”imbuhnya.