Di Kelenteng Hok Tik Bio Pati; Mempunyai Simbol Dewa Berumur Ratusan Tahun

0
62
Di altar sembayangan Kelenteng Hok Tik Bio Pati terdapat simbol Dewa Dapur pemberian seseorang dari Lasem, dan usia benda tersebut sudah mencapai ratusan tahun.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, PATI – Ini barangkali benda-benda berupa patung sebagai simbol dewa di Kelenteng Hok Tik Bio, di Kompleks Pecinan Pati, umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Satu di antaranya, yaitu simbol Dewa Dapur atau di kalangan suku Tionghoa dikenal sebagai ”Chaw Kun Kong” atau juga disebut ”Chao Cun Kung”, nama lain dari Dewa Api.

Berkait dengan usianya yang sudah cukup tua tersebut, papar Koordinator Kelenteng se-Kabupaten Pati,  Eddy Siswanto, patung simbol dewa tersebut sudah puluhan tahun lalu diterima dari sesorang yang tinggal di Lasem. Yakni, Kelenteng Hok Tik Bio diubah arah menghadapnya yang semula ke selatan, dan sekarang ini sudah menghadap ke timur atau tepat berhadapan dengan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), di Jl MH Thamrin.

Kala itu pemberian kepercayaan untuk menerima patung simbol dewa itu yang menerima adalah dia sendiri, dan bukan hanya simbol Dewa Dapur tapi ada simbol dewa yang lain. Karena itu, selama ini di kelenteng tersebut ada dua simbol patung dewa dimaksud, di mana yang satu berukuran lebih besar serta yang satu berukuran lebih kecil.

Simbol patung Dewa Dapur yang berukuran lebih kecil itulah umurnya lebih tua, barangkali patung tersebut dibawa dari asal negaranya, Tiongkok Daratan, ketika suku bangsa itu berdatangan dan melakukan misi dagang maupun pelayaran tiba di Lasem. ”Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut yang jelas simbol dewa untuk kondisi barangnya berusia cukup tua,”ujarnya.

Seorang Biokong, di Kelenteng Hok Tik Bio Pati tengah menata makanan persembahan di altar ditempatkannya simbol para dewa di kelenteng tersebut.(Foto:SN/aed)

Tentang siapa Dewa Dapur sebenarnya, jika mengutip sebagian kecil isi ”Buku Bunga Rampai dari You Yang,” memastikan bahwa  Chao Kung itu berasal dari marga ”Chang Thio”, dan versi ini sangat dipercaya kebenarannya sampai sekarang. Sedangkan nama aslinya, adalah ”Chang Sheng” pada Zaman Dinasti Tang, dan sebutan lainnya juga cukup banyak dalam Legenda Dewa Kelenteng.

Di antara sebutan tersebut, selain Chao Cun Kung (Dewa Api/menjaga dapur) sehingga gelar/sebutannya adalah Chao Cun Kung (CiauwKun Kong), Chao Hwang Ye (Ciauw Ong Ya) dan Se Ming Chao Cun (Subing Ciauw Kun). Di negara asalnya Tiongkok dewa tersebut dipuja karena mempunyai kedudukan tertinggi di kalangan masyarakat sejak zaman kuna .

Dewa tersebut dipuja sebagai Dewa Pencipta Api dan juga sebagai Dewa Pelindung Rumah Tangga yang bertugas memberi berkah, melindungi rumah tangga, serta menghukum penghuni rumah tangga sesuai kesalahan dan dosa-dosanya. Karena itu, setiap tanggal 24 bulan 12 Imlek dewa ini naik ke langit melapor kepada Tuhan Yang Maha Esa dan di kalangan Suku Tionghoa menyebutnya ”Toa Pek Kong” yang diikuti pula dengan sembahyangan tersebut.

Dalam kesempatan itu, di altar sembahyangan tempat singgasana para dewa itu disajikan makanan yang enak-enak dan manis-manis, dan sesuai dengan kondisi perkembangan budaya untuk sembahyangan ini, tidak lagi disajikan makanan dengan masakan daging babi, tapi sudah digantikan daging ayam. Harapannya, tentu semoga diberi keselamatan, kebahagiaan, kemakmuran, dan limpahan rezeki.

Selebihnya juga semoga harapan yang disampaikan oleh Dewa Dapur atau Chao Kung dikabulkan oleh Thian atau Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian tanggal 4 bulan 1 Imlek atau setelah selesai perayaan penyambutan Tahun Baru Imlek, Dewa Dapur turun kembali ke Bumi, karena itulah di kelenteng-kelenteng ini berlangsung budaya tradisi perayaan menyambut datangnya Tahun Baru Imlek, di mana di Tahun 2022 ini adalah memasuki Tahun 2573.