Catatan Awal Tahun 2022; Jangan Terlalu Banyak Berharap Seperti Matahari Akan Berubah Arah Terbitnya

0
56
Matahari yang kali pertama terbit di hari pertama, Sabtu (1/Januari) 2022 pada pukul 06.05, karena sebelumnya tertutup mendung.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, JIKA Samin News (SN) membuat catatan di awal Tahun 2022, hal itu bukan berarti meramal hal-hal yang akan terjadi selama satu tahun mendatang, melainkan semata-mata hanya mengingatkan. Yakni, hendaknya kita tak perlu banyak mengharap seperti matahari tersebut akan berubah dari arah terbitnya, karena memang masih selalu setia terbit dari timur dan tenggelam di barat.

Sebab, biasanya besar harapan dan bahkan sampai berlebihan maka hasil yang dituai adalah kekecewaan, sehingga tak ubahnya kekecewaan yang harus ditelan oleh puluhan juta rakyat Indonesia. Apalagi, jika tidak kekecewaan karena Timnas kita dalam leg 1 Piala AFF Tahun 2020 beberapa hari lalu dilibas Tim Thailand 4-0 tanpa balas.

Dengan demikian, dalam final di leg 2 hari ini saat bersamaan dengan hadirnya awal Tahun 2022, hendaknya tidak perlu lagi menyandarkan harapan, bahwa Timnas kita akan melakukan revans dengan target harus menang 5-0 atas Thailand. Kendati filosofi bahwa bola itu bundar, tapi harapan yang memang terlalu berlebihan tersebut akan kembali menebar kekecewaan yang sudah barang tentu kian bertambah besar.

Karena itu, jika di tahun ini kita tidak ingin menuai kekecewaan dalam banyak hal, maka lebih baik setiap individu mulai menata kesadaran diri, sejauh dan sebesar apa peluang kita untuk memasuki dan memperebutkan peluang yang tersedia. Sebab, hanya orang-orang yang memang benar-benar siap dalam kancah persaingan itulah yang akan keluar sebagai pemenang.

Mengingat hal tersebut, akan lebih baik jika seluruh harapan dan kesiapan jutaan rakyat negeri ini adalah mengharap serta bersiap-siap, untuk segera secepatnya menyelesaikan hal paling krusial selama ini. Yakni, merebaknya pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum juga dinyatakan secara resmi berakhirnya, sehingga siapa pun jutaan rakyat yang tidak mempunyai banyak peluang dan kesempatan ini akan terus terpuruk.

Di satu sisi, pemerintah memang terus gencar menciptakan kondisi Indonesia ini bisa segera terbebas dari masa pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Bahkan sampai sekarang, hal tersebut terus berlanjut, sehingga berbagai upaya rakyat ini harus selalu menerapkan dan mematuhi berlakunya ketentuan, yaitu protokol kesehatan (Prokes), serta upaya menangkal lainnnya melalui penciptaan kekebalan yang disebut pemberian suntikan vaksin.

Sampai-sampai aturan, bahwa untuk segala sesuatu urusan hajat hidup rakyat ini tergantung pada selembar kartu sebagai bukti nyata, bahwa yang bersangkutan memang benar-benar sudah menerima suntikan vaksin, untuk kali kedua. Konsekuensi logis, pemerintah juga harus mengeluarkan anggaran cukup besar, karena mencapai triliunan rupiah, termasuk yang terbesar adalah sebagai alokasi berbagai jenis bantuan kepada masyarakat terdampak.

Akan tetapi, dampak diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berulang-ulang hingga sekarang, akhirnya warga yang merasa berkemampuan pun melakukan ”perlawanan.” Yakni, menganggap bahwa masalah Covid-19 ini suatu hal yang dibesar-besarkan, meskipun fakta menunjukkan bahwa jumlah warga yang terpapar dan merenggut nyawanya juga mencapai ribuan.

Rasanya pendapat dan anggapan demikian, tentu kurang bijaksana di balik upaya pemerintah yang terus berupaya maksimal untuk keluar dari lingkaran ancaman Covid-19. Sehingga, semua rakyat di negeri ini tentu harus ikut nyengkuyung agar rakyat lainnya yang tidak mampu dan tidak mempunyai kesempatan di tahun ini, tidak lagi harus berhadapan dengan buramnya kondosi pandemi.

Apalagi, terhadap kondisi anak-anak kita yang seharusnya lebih leluasa mengenyam dan menikmati dunianya dengan terus belajar, terpaksa harus terpuruk masuk dalam lingkaran pembelajaran sistem daring yang juga berkepanjangan hingga sekarang. Sehingga kondisi tersebut banyak yang menjadikannya bahan olok-olok, karena jika ada lulusan SD, SMP, SMA maupun SMK disebutnya sebagai ”Lulusan Corona.”

Demikian pula, jika ada perguruan tinggi yang meluluskan para sarjana juga disebut sebagai ”sarjana corona” sejak diterapkannya PPKM. Karena itu, harapan paling tepat adalah harapan yang tidak berlebihan, seperti harapannya puluhan juta rakyat negeri ini terhadap Timnas kita yang dalam leg 2 Piala AFF Tahun 2020 bisa membalas kekalahan telaknya dari Thailand 4-0 pada leg 1 beberapa waktu lalu, karena besarnya harapan tersebut hasilnya justru akan bertambah menyakitkan.

Masih ada harapan lain mulai berjalannya waktu di awal tahun ini, meskipun itu bukan satu-satunya, tapi patut kiranya dilakukan oleh ratusan juta rakyat di negeri ini agar bisa kembali menatap masa depannya. Yakni, segera dinyatakannya bahwa masa pandemi Covid-19 ini berakhir, agar rakyat kita bisa bangkit dari keterpurukan berkepanjangan. Semoga….!!