Kementerian Kesehatan Deteksi Varian Omicron di Indonesia

0
32
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi deteksi kasus pertama Covid-19 varian Omicron. Foto: kemkes

SAMIN-NEWS.com, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan mendeteksi kasus pertama Covid-19 varian Omicron di Indonesia pada Rabu (15/12/2021).

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus pertama omicron itu terdeteksi pada seorang petugas kebersihan berinisial N yang bekerja di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

“Kementerian Kesehatan telah mendeteksi seorang pasien terkonfirmasi Omicron pada tanggal 15 Desember, data-datanya sudah kita konfirmasikan ke GISAID dan telah dikonfirmasi kembali dari GISAID bahwa memang data ini data sequencing Omicron,” kata Menkes sebagaimana keterangan pers perkembangan pandemi COVID-19.

Sebelumnya, kata dia para petugas Wisma Atlet diambil sampel pada tanggal 8 Desember. Hasil pemeriksaan keluar dua hari kemudian, yakni 10 Desember yang mana didapati 3 orang terkonfirmasi positif. Selanjutnya, ketiga sampel tersebut dikirim ke Balitbangkes untuk dilakukan Whole Genome Sequencing (WGS).

Menkes mengatakan kini mereka telah menjalani karantina di Wisma Altet. Ketiganya dalam kondisi sehat, tanpa ada gejala, tanpa batuk, dan tanpa demam. Dari hasil pemeriksaan PCR juga hasilnya telah negatif.

Di samping itu, Kemenkes juga mengidentifikasi terdapat 5 kasus probabel Omicron. Masing-masing dua warga Indonesia yang baru datang dari luar negeri. Serta ketiga yang lainnya adalah warga Tiongkok.

“Dengan pemeriksaan khusus SGTF, kita mendeteksi 5 kasus probable omicron 2 kasus warga Indonesia yang baru balik dari Inggris dan AS, 3 lainnya WNA dari Tiongkok yang ke Manado yang sekarang dikarantina di Manado,” tutur Menkes.

Kendati demikian, pihaknya meminta masyarakat jangan panik dengan temuan kasus ini. Yang penting, menurutnya adalah dengan mematuhi protokol kesehatan serta mengikuti vaksinasi Covid-19 terlebih bagi yang kelompok rentan.

“Kedatangan varian baru dari luar negeri yang kita identifikasi di karantina, menunjukkan bahwa sistem pertahanan kita atas kedatangan varian baru cukup baik, perlu kita perkuat. Jadi wajar kalau harus stay 10 hari di karantina. Tujuannya bukan untuk mempersulit orang yang datang, tapi melindungi seluruh masyarakat Indonesia,” terangnya.