Catatan Bondan Nusantara Tentang Perbedaan Ketoprak di Pati dan Ketoprak Mataram

0
132
Perbedaan seni ketoprak tobong Pati dengan ketoprak Mataram, di antaranya pada penyajian pembuka dengan tari gambyong dan juga adegan tamansari yang tidak ada di seni pertunjukan ketoprak Mataram.(Foto:SN/aed)

SAMIN-NEWS.com, SEBAGAI pendamping yang menyertai para seniman di Pati dalam proses kreatif untuk penulisan naskah cerita ketoprak, Bondan Nusantara mempunyai beberapa catatan tentang perbedaan ketoprak tobong di Pati dan ketoprak Mataram. Sedangkan penulisan naskah cerita tersebut dikemas dalam kegiatan ”workshop,”  bersama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DI Yogyakarta dan Tim Indonesiana Kemendikbud Riset dan Teknologi RI.

Dari hasil penulisan naskah secara berkelompok, dua naskah yang dinilai paling layak diangkat sebagai cerita dalam pertunjukan Ketoprak Indonesiana yang berlangsung Selasa (9/November) semalam (tadi malam), di Sanggar Pasinaon Desa Budaya, Kertomulyo, Kecamatan Trangkil. Sedangkan malam ini (nanti) malam, dilanjutkan dengan pertunjukan di tempat sama oleh kelompok yang satunya.

Karena itu, papar Wawan Laras Budoyo yang menyutradarai besutan lakon ”Geger Patiayam”, pihaknya tentu berterima kasih dengan disampaikannya beberapa catatan karena hal itu bisa menjadi koreksi atas kekurangan seni pertunjukan ketoprak tobong di Pati. Jika perbandingannya adalah ketoprak Mataram, maka perbedaan tersebut sebagai kasanah budaya antara masyarakat pesisir dengan kawasan lingkungan keraton.

Akan tetapi dengan perbedaan tersebut, tentu akan lebih memperkaya khasanah seni budaya kita, sehingga beberapa catatan tersebut bisa dikemukakan agar lebih diketahui dan dipahami khalayak. ”Dengan demikian, sebagai pengatur dan penanggung jawab pertunjukan ketoprak Indonesiana, kami berterima kasih kepada Pak Bondan Nusantara atas bimbingannya,”ujarnya.

Dari sisi kostum juga cenderung berbeda karena ketoprak tobong Pati dinilai sangat glamour.(Foto:SN/aed)

Lebih lengkapnya mengutip catatan tersebut, lanjut Wawan Laras Budoyo, juga menyinggung soal pelaksanaan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang dimotori, Pak Paryanto, membawa dampak signifikan bagi pengembangan para seniman ketoprak tobong di Pati. Sebab, format ini memiliki flekssibilitas untuk masuk hampir di semua sendi kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah dan para penggemar ketoprak di Pati.

Selain itu, ketoprak tobong yang tumbuh subur di Pati memiliki pembeda yang jelas dengan ketoprak Mataram yang tumbuh di wilayah DIY. Adapun pembeda itu bisa dilihat antara lain, selalu dimulai dengan tarian gambyong yang dibawakan oleh semua pemain putri, dan untuk adegan dagelan wajib dimunculkan dalam setiap lakon, serta selalu menghadirkan adegan para dayang melantunkan tembang-tembang dolanan.

Selebihnya, masih ungkap Wawan Laras Budoyo mengutip catatan itu, untuk intonasi dialog lebih urnamentik dibanding ketoprak Mataram. Demikian pula, untuk pengadegen cenderung runtut dari A hingga Z sebagaimana pergelaran wayang kulit sehingga lakon-lakon yang tersaji cenderung antiklimaks, dan kostum pun lebih glamour serta bernuansa entertain dibanding ketoprak Mataram.

Sementara itu, untuk keprak menjadi penentu ke luar dan masuknya pemain sekaligus menjadi penanda suasana dramatik, dan untuk durasai pertunjukan lebih lama dibanding ketoprak Mataram yang biasanya tampil tak lebih dari 2 jam. Sedangkan lakon yang digelar cenderung meniru apa yang pernah dipentaskan para pendahulunya.

Khusus untuk lakon atau cerita, Wawan Laras Budoyo sedikit menanggapi,  untuk ketoprak tobong di Pati adalah menyesuaikan permintaan yang memberikan order/tuan rumah sebagai penanggap, tapi masyarakat juga tidak ada bosan-bosannya dengan cerita dari dulu hingga sekarang yang tetap sama. ”Bahkan lebih ekstreem lagi, jika cerita tersebut tidak sama dengan yang ditampilkan para pendahulu dianggap cerita itu salah, sehingga jarang yang bisa menerima hadirnya cerita baru dan lain kemasan,”imbuhnya.